25.10.10

Long Hard To Get You

Dibuat Oleh : Haze
1999
Entah malam itu malam apa, yang kuingat hanyalah aku berusaha melemaskan lututku yang kaku, dan menghangatkan tanganku yang membeku. Aku melirik sekali lagi ke arah gedung yang berwarna ungu dengan tulisan BIEC besar-besar itu.
“Gimana nih?? Kita pulang aja kah??” Endah berkata di sampingku, dia tau aku benci keramaian. Aku menarik napas panjang, mencoba memaksa udara memenuhi paru-paruku, siapa tau bisa menenangkan kegugupanku. Hasilnya nihil, aku masih gemetaran.
“Piye iki?? Yo weis kita muleh ae” kata ayahnya Endah hendak menstarter mobilnya. Aku masih diam, sambil meremas-remas tanganku, mencoba mengatasi kegugupanku ini.
“Bulan depan aja dah kita lanjutin lesnya di kilo, jadi kita ga perlu di kelandasan, gimana?” Endah menawarkan. Dan aku tetap diam, sambil memandangi kerumunan yang membuatku mual. Phobia ini harus segera diatasi, aku pasti bisa. Aku meyakinkan diri sendiri dalam hati. “Ayo yah, kita pulang aja, bulan depan aja Endah lanjutin di kilo” Endah langsung memutuskan, karena aku tak kunjung menjawab.
Aku menarik napas panjang sekali lagi “Hhhhh…. Ayo Ndah, kita turun” kataku sambil memegangi pintu mobil.
“Yakin??” tanya Endah ragu-ragu
Aku menarik nafas lagi, dan memejamkan mataku sejenak, dan tanpa bicara lagi aku membuka pintu mobil dan turun dengan kaki gemetar, aku sedikit kepayahan menopang badanku sendiri, kemudian aku menggoyang-goyangkan kakiku mencoba untuk rileks. Endah pun sudah berdiri di sampingku, memegangi tanganku yang tak kunjung hangat. “Ayah jemput jam 10 ya..” kata Endah pada ayahnya. Ayahnya mengangguk dan tersenyum “Yo weis, hati-hati ya kalian berdua. Iku si Shinta ndak opo-opo Ndah?”
“Saya gapapa om.. makasih” jawabku.
“Ayo sana kalian masuk, ayah nunggu disini aja dulu, siapa tau kalian ndak jadi masuk”
“Ayo Shin” Endah menggandeng tanganku.
Aku menarik napasku lagi, aku benar-benar benci keramaian!! Aku bisa tiba-tiba meriang, keringat dingin, bahkan ingin muntah, jika berada di tengah kerumunan seperti ini. Aku berjalan sambil menunduk agar hanya kakiku saja yang terlihat, karena ini satu-satunya cara untuk mengatasi phobiaku. Endah masih memegangi tanganku, agar aku tak menabrak apapun dan aku dengan patuh mengikutinya, sampai akhirnya dia tiba-tiba berhenti. Aku terkejut, kemudian memandanginya. Endah tertegun menatapku, aku menelengkan kepalaku dan aku baru sadar bahwa Endah bukan memperhatikanku tetapi memperhatikan objek yang berada di belakangku. Aku malas melihat ke arah manapun, karena kemanapun aku melihat, disitu pasti ada manusia-manusia yang tak kukenal yang membuatku semakin muak dan mual. Aku menarik tangan Endah, tapi dia tetap tak bergeming. Malah menarik tanganku lagi. Sial!!!
“Shiiinn….”
“Apa?!!” jawabku tak sabar.
“Cakeeeppp….” lanjut Endah dengan mata berbinar-binar. Aku menghela napas sebal, sadar akan kebiasaan Endah setiap melihat makhluk berjakun. Aku melepas tangannya dan hendak beranjak ke bagian administrasi secepatnya, tetapi Endah malah menarik tanganku lagi dan memutar tubuhku ke arah objek yang dia maksud. “Tuh… yang duduk di belakang box telepon, baju item, pake kacamata. Cakep kan?”
“Nggak!” jawabku asal, tanpa melihat objek yang Endah maksud sedikitpun. Kemudian cepat-cepat masuk ke bagian administrasi, Endah cepat-cepat mengejarku.
“Payah kamu Shin!”
Selesai mengurus masalah administrasi, aku dan Endah langsung mencari kelas yang terletak di lantai 3. Aku mencari tempat duduk yang agak tersembunyi. Endah duduk di sampingku, tak lama muncul Agish “Wah.. sudah duluan kalian” katanya.
Aku tersenyum. Agish mengambil tempat duduk di samping Endah dan mereka pun mengobrol, mungkin lebih tepatnya bergosip. Wanita. Aku sibuk membolak-balik buku lesku, mencari hal-hal yang kira-kira menarik. Sampai akhirnya aku baru sadar kalau Agish dan Endah ga seberisik tadi, aku menoleh ke arah mereka. dan sekali lagi kulihat mata Endah berbinar-binar, cowok lagi pasti, tebakku. Aku kembali membolak-balik bukuku.
“Heh!!! Misi!!!” bentak suara yang berasal dari atas kepalaku. Aku mendongak malas. “Denger gak?? Ini tempatku!!! Sana! Sana! Sana!” bentaknya lagi sambil menghalauku dengan tangannya, aku menatapnya, marah. Dia balas menatapku. Aku tetap tak bergeming dari tempat dudukku. “Misi gak??!!!” bentaknya lagi. Kemudian Agish menarik tanganku, aku masih tetap duduk.
“Shin… ayo pindah..” daripada memerintah, Agish lebih terdengar memohon padaku, agar aku tak usah cari gara-gara sama makhluk jangkung bersuara cempreng ini. Aku pun mengalah, dan berdiri mengambil bukuku tanpa sedetikpun melepaskan tatapanku dari cowok menyebalkan itu. Dia tersenyum mengejek, membuatku semakin kesal. Endah mengosongkan tempat duduk di pojokan dekat tiang, dia tau tempat favoritku.
“Shin, itu kan cowok yang tadi? Senangnya bisa sekelas.. kenyang.. kenyang..” bisik Endah. Aku mendengus kesal, sialan ni Endah, baru beberapa detik yang lalu aku dibentak sama tu cowok, dia malah kegirangan.
Guru les sudah datang, kelas sudah mulai penuh. Dan aku mulai sesak nafas, belum terbiasa dengan keramaian di kelas ini. Itulah sebabnya aku suka tempat di samping tiang atau dinding, setidaknya aku bisa menyenderkan kepalaku di situ, saat aku mulai jengah dengan kehadiran manusia-manusia ini di sekitarku. Kufokuskan mataku ke satu titik, ke arah pak guru untuk menghalau keteganganku. Hmpfff…. Aku benar-benar benci ramai!!! Pak guru mengabsen kami satu persatu, dan tiba-tiba Bapak itu menggoyang-goyangkan kepalanya seperti mencari sesuatu, otomatis aku melihat ke arah mana mata Bapak itu tertuju. Lagi-lagi cowok itu membuat masalah, rupanya pak guru tak bisa melihatnya yang bersembunyi di belakang tiang, tempat dudukku yang tadi direbutnya. Dia diusir dan disuruh pindah ke tempat dimana Bapak itu bisa melihatnya. Aku tersenyum sinis, rasakan!!!
Aku berangkat sendiri ke tempat les, sengaja pergi 1 jam lebih cepat agar aku tak perlu menerobos kerumunan seperti kemarin. Dan benar saja hanya beberapa orang yang berada di sana. Aku bisa leluasa berjalan dan bernapas. Dan aku langsung menuju kelasku duduk di tempat duduk yang sama, menikmati kesunyian. Dan baru kali itu aku sadar kalau di belakang kelasku adalah laut, pantas saja kelas ini dingin. Kemarin ribut sekali, jadi aku tak bisa menikmati suara deburan ombak. Aku menyenderkan kepalaku di tiang dan kupejamkan mataku, menikmati setiap nada yang dihasilkan ombak yang terpecah karang, serta angin laut yang sejuk. Musikku terganggu suara langkah kaki berlari yang menaiki tangga. Aku membuka mata tepat ketika cowok itu terengah-engah di depan pintu. Lagi-lagi dia, rutukku dalam hati. Dia menatapku, masih di depan pintu. Aku tak peduli, kemudian kuambil bukuku dari dalam tas. Aku melihat kakinya melintas di depanku, mengambil tasnya yang menggantung di jendela, tepat di belakang kursi yang kita perebutkan kemarin, kemudian dia duduk 5 bangku di depanku. Dia bergerak-gerak tak bisa diam menimbulkan bunyi berderak-derak dari kursinya. Aku masih tak peduli dengan keributan yang dibuatnya sendiri. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya, sambil menggoyang-goyangkan kursinya ke depan. Aku menekan pelipis kananku, mulai terusik dengan keributan yang dibuatnya. Kemudian dia pindah lagi dari tempat duduknya, kali ini 2 bangku di depanku. Dia menselonjorkan kakinya yang panjang dan hampir mengenai kakiku, kemudian kutarik kakiku. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya. Aku menghela nafas, dan menatapnya dengan pandangan bisa diem ga? Dia menatapku juga dan berhenti mengetuk-ngetuk meja. Kemudian aku melanjutkan lagi membaca bukuku. Dia berdiri, kemudian melangkahi bangku yang tepat berada di depanku, membuatku terkejut. Aku menatapnya sekilas, dan menggeleng-geleng pelan. Dia duduk di belakang kursi yang tadi di dudukinya, dan meletakkan kakinya yang panjang itu di atas kursi di depannya, menggoyang-goyangnya dan bersiul-siul. Sekali lagi aku menekan pelipis kananku. Tiba-tiba dia melompat dari kursinya, dan berlari ke arah pintu. Sambil berlari dia menekan sakelar lampu dan membanting pintu kelas, mengurungku sendirian dalam kelas yang gelap. Aku memegangi kepala dengan kedua tanganku. Ya Tuhaaaann!!!! Apa maunya sih orang ini??!!!!
Menghindari kejadian kemarin akan terulang, maka aku memutuskan datang 15 menit lebih cepat. Tak apa jika aku harus menerobos kerumunan, daripada harus berlama-lama bersamanya di dalam kelas. Aku berjalan cepat-cepat ke kelas, ternyata sudah cukup banyak orang di dalam kelas. Ada Agish dan Endah.
“Tumben baru dateng, Shin?” tanya Agish. Aku hanya tersenyum kecil. Kemudian mataku berpindah ke arah makhluk asing yang duduk di samping Agish. Agish mengikuti arah pandanganku “Ooo.. kenalin Shin, ini Ainun. Dia baru masuk hari ini, tapi ga punya temen”
“Shinta” jawabku
“Ainun.. mbak Shinta rumahnya di gn. 4 juga ya?” tanyanya
“Iya” jawabku singkat sambil menghempaskan diri ke tempat dudukku
“Ainun juga, kalo berangkat barengan yuk mbak. Ainun takut sendirian. Tadi aja dianterin sama bapak”
“Iya Shin. Kasian anak SD kalo pulang pergi naek angkot sendirian” kata Endah.
Aku tersenyum dan mengangguk ke arah Ainun. Kemudian terdengar suara-suara orang berlari di tangga, suara tawa dan jeritan anak-anak. Otomatis semua mata tertuju keluar, kecuali aku. Mendengar langkah dan suaranya saja aku sudah tau siapa biang keributan itu, dengan tenang aku mengeluarkan bukuku. Brak!!! Anak kecil itu menabrak pintu.
“Kak Adi ampuuun kaaak..” anak itu memohon, masih ngos-ngosan.
“Buahahahahahahaha… tiada ampun bagimu nak!!! Hahahahahaha” tawanya menggelegar dengan cemprengnya. Kemudian mereka melanjutkan acara kejar-kejaran itu di dalam kelas, membuat rusuh saja. Beberapa detik kemudian, mereka sudah kejar-kejaran di belakangku. Dia berhasil menangkap anak kecil yang bernama Ipul itu kemudian hendak melemparkannya keluar jendela di belakangku. Ipul berteriak-teriak minta tolong. Kemudian beberapa anak cowok ikut bermain bersama mereka, entah bagaimana ceritanya sekarang cowok itu yang berada di posisi Ipul, hendak dilempar keluar jendela, kini dia yang meronta-ronta. Kakinya yang panjang hampir mengenai kepalaku, untunglah Endah menundukkan kepalaku, karena aku memang tak menghiraukan mereka, sibuk menulis. Aku keheranan, melihat mata Endah tetap berbinar-binar. Apa sih yang dia suka dari cowok konyol itu?? Cowok itu berhasil lepas, kemudian dia berlari lagi, dan tak lupa menekan sakelar lampu dan membuat kelas gelap gulita, kali ini tentu saja, cewek-cewek yang berada di ruangan ini berteriak-teriak, takut gelap. Aku menghela napas lagi, sepertinya dia memang harus dilenyapkan dari muka bumi.

Pola tempat duduk di kelas ini berbentuk U dengan batas tiang sebagai titik sudutnya. Tempat duduk diatur dengan 2 shaft, dan aku duduk di sudut depan dimana aku selalu dapat bersender di tiangnya. Mimpi apa aku semalam?? Hari ini, dia duduk tepat di sampingku. Lebih tepatnya dia duduk di area tengah yang tepat berada di sampingku, syukurlah masih terhalang 1 bangku, karena dia duduk di shaft kedua. Tumben dia tidak berisik atau membuat kekacauan. Dia terlihat santai-santai saja sambil menggoyang-goyangkan kaki kirinya yang berpangku di kaki kanan. Kita sedang mengerjakan soal-soal di buku, guru kami keluar sebentar. Mungkin merokok, entahlah.
“Shin.. pinjem penghapus” kata Endah.
Aku merogoh tasku mencari penghapus dan membuat pensilku terjatuh dan menggelinding ke arah kakinya. Aku mengutuk kecerobohanku sendiri. Kuberikan penghapus itu ke Endah, aku melirik sekilas padanya tapi aku begitu angkuhnya hingga tidak ingin meminta pensilku yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Jadi aku berpura-pura sudah selesai mengerjakan soal. Dan membolak-balik bukuku, berpura-pura membaca. Aku mengawasi gerak geriknya dengan ekor mataku. Dia tersenyum-senyum jahil ke arahku, membuatku kesal. Dan memungut pensilku, lalu berteriak-teriak ke arahku.
“Woooii!!! Pensil siapa ini wooiii!!!” teriaknya sambil melirikku. Aku diam saja, tak ingin mengakui. “Ga ada yang punya kah ini??? Aaahhh… ambil aaahhh…” teriaknya lagi tetap dengan wajah terarah padaku. Aku tetap tak bergeming. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke arahku “Wah kayaknya beneran ga ada yang punya nih, ambil aaahh…. Kuambil ya… kuambil… asiiikkk pensil grateeessss” teriaknya sambil tersenyum jahil dan menggoyang-goyangkan pensilku. Aku tetap diam saja. “Aku ambil beneran looo.. hayuuu…. Aku ambil ya… ambil aaahh…” dia masih juga berisik. Ambil aja sono, aku juga bisa beli lagi koq di bawah. Aku menjawab dalam hati. “Eh aku beneran looo… mo ambil pensil biruuuu iniiii… ga ada yang punya kan?? Asik asik… ambil aaahhh”
“Apa sih Adi ini??? Berisik betul!!!” seru teman yang duduk di sebelahnya. Tampaknya dia sudah mulai terganggu.
“Ini nah, ada pensil tak bertuan. Daripada dibuang-buang, aku ambil aja aaahhh…” jawabnya sambil melirikku yang masih pura-pura membaca.
“Coba sini!” temannya merampas pensil dari tangannya.
“Eh… punyaku itu!!” dia hendak merebut pensilku dari tangan temannya. Namun temannya menjauhkan pensilku dari tangannya. Kemudian memperhatikan pensil itu dan melihatku, berulang-ulang.
“Kayaknya ini punyanya tu cewek deh” kata temennya.
“Enak aja!! Aku yang dapet koq”
“Tapi kan ini punya tu cewek” temannya ngotot “Eh cewek!” aku menoleh “Punyamu?” aku mengangguk. Lalu dia menyerahkan pensil itu padaku.
“Thanks” kataku
“Yoi.. Tuh bener kan itu pensilnya? Maen ambil-ambil punya orang aja”
“Kan aku yang dapet” protesnya
“Tauk ah!!” jawab temannya malas.
Dia. Dia. Dia. Hmpffff…. Otakku penuh sama dia. Orang paling berisik sedunia, mengganggu ketenanganku setiap hari, entahlah sepertinya hanya aku yang merasa terganggu dengan kelakuannya yang super lincah itu, buktinya temen-temen yang lain ga ada yang pernah komplain atau keberatan. Mereka santai-santai saja, meski sering dijahili. Entah sejak kapan dia memutuskan untuk selalu duduk di belakangku, tidak tepat di belakang sih, tapi di sebelah kanan belakangku. Yang aku heran, kenapa dia selalu meletakkan kakinya yang panjang itu ke arah kursiku, mengotori bagian belakang celanaku, apalagi kalau dia sudah mulai menggoyang-goyangkan kakinya, otomatis aku juga ikut bergoyang-goyang. Berkali-kali aku melototi dia, memberi tatapan protes dan tidak senang tapi sepertinya dia cuek saja, seperti tak melakukan apapun yang salah, membuatku semakin berang. Memang sih setiap saat aku menoleh ke arahnya dengan tatapan protes itu, dia akan menurunkan kakinya. Tapi setelah aku kembali menghadap ke depan, dia mulai lagi mengangkat kakinya dan membuat gempa lokal di tempat dudukku. Hmppffff… orang ini benar-benar menguji kesabaranku.
Pernah suatu saat, kami hampir bertabrakan di pintu musholla, aku baru saja hendak sholat maghrib, dan dia baru selesai. Kami sempat berpandang-pandangan beberapa detik, jujur saja aku tak percaya orang seperti dia masih ingat Tuhan. Dia menatapku, aku juga menatapnya, kami sama-sama tidak mau mengalah, sampai akhirnya Ainun menarikku agar tidak terjadi kemacetan di pintu musholla. Oh.. jadi keadaan berbalik? Aku yang menyebabkan macet? Bukan dia? Sial!! Dan benar saja, saat aku sudah selesai sholat, aku melihatnya sedang berbaring di kursi panjang di depan musholla, kemudian saat aku membuka pintu, dia tiba-tiba berlari, seolah-olah melihat setan. Aku heran, ada apa? Aku menoleh ke Ainun, tapi dia seperti tak peduli, seperti tidak ada yang aneh, dengan santai dia memakai sendalnya. Dan setelah kupikir memang tak ada apa-apa, akupun menunduk hendak memakai sendalku. Sial!! Dimana sendalku??? Hilang! Sendalku hilang! Astagaaa….. apalagi yang dilakukannya? Aku yakin dia yang menyembunyikan sendalku. Sialan!!! Ainun membantuku mencari sendalku, sebelah kanan di bawah tempat air minum dan sebelahnya lagi ada di atas pagar tembok tempat wudhu. Dia membuatku terlambat masuk kelas. Aku dan Ainun terengah-engah karena kami berlari-lari. Ku pelototi lagi dia, dia hanya terkekeh melihatku. Sial!! Sial!! Sial!!
Keesokan harinya, Ainun izin ga masuk, jadi aku pergi sendiri. Aku langsung ke tempat wudhu, ketika aku sampai di depan pintu musholla, aku tertegun melihatnya sedang sholat di dalam. Entah mengapa aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam, dan memilih duduk di luar dan memperhatikannya sampai dia selesai sholat. Kemudian dia keluar, menunduk, dan ketika melihatku sedang duduk di situ, dia tersenyum, aku diam saja, membatu, kemudian dia memakai sendalnya dan pergi. Setelah terdiam beberapa saat, aku tersenyum sendiri, menggeleng-gelengkan kepala, kemudian masuk ke dalam musholla. Sejak saat itu aku sudah tak peduli lagi apa yang dia lakukan, terserah saja, karena aku sudah terbiasa dan kali ini aku akui aku menikmatinya. Yang aku tidak mengerti mengapa setiap kali berpapasan dengannya, waktu seakan berhenti, dan semua orang seperti menghilang begitu saja. Ada apa denganku?? Apa ada yang salah dengannya? Aku benar-benar tak mengerti. Kemudian sosoknya menghilang selama beberapa hari, aku heran. Dia kan tergolong anak yang rajin, gak pernah 1 kalipun tidak masuk, sudah 1 minggu ini dia tidak masuk, temannya juga tidak ada. Pak guru sampai bingung, kemana orang itu? Ga ada kabar sama sekali, sampai akhirnya temannya muncul, Pak guru pun bertanya padanya “Adi kemana?”
“Dia gak lulus book 1 pak” jawab temannya.
Aku menghela nafas panjang, dan tanpa sadar aku menjatuhkan air mataku. Sepertinya aku tak akan bertemu lagi dengannya. Endah melihatku, kemudian dia tersenyum menatapku. Ya aku sadar aku menyukainya, bahkan aku merindukannya. Meski suaranya membuat telingaku sakit, tingkahnya menyebalkan. Tapi aku menyukainya, itu saja.
Seiring jalannya waktu, ternyata aku masih bisa bertemu dengannya lagi dengan berbagai ketidak sengajaan dan keberuntungan, aku bertemu dengannya di festival band, di jalan, tapi aku tak pernah menegurnya, cukup melihatnya dari jauh saja sudah membuatku bahagia. Ya.. aku tidak yakin dia mengingatku seperti aku mengingatnya.

2001
Shenia, teman sebangkuku waktu SMA yang juga teman nari waktu SD sedang merayakan ultahnya yang ke-17, disitu aku bertemu dengan teman SDku, Mia yang ternyata masuk di SMA 6, sekolah yang sama dengannya. Aku ingat waktu itu dia pernah berkoar-koar tentang betapa bangganya dia memakai baju putih-putih setiap hari Senin, hanya SMA 6 yang begitu. Dan ketika aku bertanya pada Mia tentang dirinya, justru teman seperjuanganku di kegiatan yang bernama Crouching The Winner waktu SMP lah, Arbani yang menjawabnya dan mengaku bahwa dia adalah sepupunya, dan dengan santainya dia memberiku nomor telpon rumahnya, aku pura-pura tak peduli, padahal otakku merekamnya dengan sempurna.

2002
Karena aku tak berani menghubunginya, maka temankulah, Eka yang bertindak dan mencoba untuk menghubunginya, tapi tetap saja rasanya sulit sekali. Sampai akhirnya Eka janjian bertemu dengannya di M studio. Ya, aku hanya ingin melihatnya, itu saja, tidak lebih. Tapi yang terjadi justru dia menegurku bukan si Eka, aku panik sampai menjatuhkan tumpukan kaset-kaset di hadapanku. Kemudian aku bersembunyi diantara kerumunan dan menghindar, mendatangi Eka yang terbengong-bengong di sudut yang berlawanan, karena jelas-jelas satu-satunya pengunjung yang berbaju merah di toko kaset itu hanya dia, tapi dia sama sekali belum ditegurnya, dia malah menegurku. Kemudian dia dan temannya mendatangi kami. Kami ngobrol-ngobrol, lebih tepatnya Eka dan dia yang ngobrol. Aku dan temannya hanya terdiam, bagaimana aku tidak tertunduk dan terdiam jika tatapannya terus mengarah padaku meskipun dia berbicara dengan Eka. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

2003
Dan sekali lagi entah malam itu malam apa, yang jelas aku dipenuhi kesialan. Aku meminjam motor kakak, yang sekarang sudah jadi milikku dan kuberi nama Jack. Aku mau jalan-jalan, tapi di tengah jalan rantainya malah lepas, aku kebingungan dan marah-marah sama kakakku, karena katanya tadi dari Samarinda motornya ga apa-apa. Syukurlah rantaiku lepas dekat rumahnya Endah, jadi aku minta tolong sama ayahnya Endah. Ayahnya menasehati sebaiknya aku pulang saja, karena cuaca sangat mendung. Tapi aku sudah janji sama Uun untuk menemaninya ke Gramedia. Aku pun menjemput Uun, dan sial lagi, bensinnya habis. Jadi akupun membeli bensin eceran saja. Sesampainya di Gramedia, Uun segera membeli buku, dan setelah itu seperti kebiasaan kami, kami selalu makan yogen crepes di pinggir pantai sebelum pulang. Aku teringat bahwa aku belum ambil raport dan sertifikat terakhirku di BIEC. Maka kuputuskan untuk kesana, aku tersenyum setiap melihat gedung ini, disinilah aku bertemu dengannya, dengan sejuta kekesalan yang bertumpuk hingga melahirkan kerinduan. Aku bergegas masuk ke dalam, karena hujan sudah mulai turun, deras sekali. Aku bingung bagaimana ini pulangnya? Aku sih gak masalah, tapi Uun?? Aku gak pernah membawanya pergi sampai lewat dari jam 10 malam. Ketika hujan bisa ditoleransi tingkat kederasannya oleh Uun, maka kami memutuskan untuk menerobos hujan saja, karena sepertinya hujan ini akan berlangsung semalaman. Aku berjuang untuk melihat diantara hujan yang menghantam wajahku. Kemudian aku mendengar ada orang yang menyapaku.
“Shinta… mau kemana??” kata suara itu.
Aku menoleh sekilas, kemudian aku menoleh ke arah Uun yang sedang sibuk menggosok-gosok kacamata yang menempel di wajahnya dengan jari. Jarinya berfungsi sebagai whipper.
“Un, koq kaya kuyang ya?” tanyaku.
“Hah?? Apa??” tanya Uun lagi.
Kemudian aku menoleh lagi ke arah suara tadi, memastikan bahwa penglihatanku salah. Tapi ternyata aku benar, itu dia!! Dia tau namaku!! Pekikku dalam hati. Dia ingat!!! Jika saja aku tidak sedang mengendarai motor, mungkin aku sudah melompat-lompat kegirangan. Aku menoleh lagi pada Uun.
“Tuh kan Un, beneran kuyang” ulangku pada Uun. Ya.. aku memanggilnya kuyang, waktu itu Agish yang memberinya julukan itu, karena dia sering sekali memakai sweater atau baju dengan model turtle neck yang menutupi lehernya, Agish dan Endah memang selalu memperhatikannya dan terus-terusan saja membicarakannya sebagai objek yang sangat-sangat menarik, yang sama sekali tidak menarik di mataku, dulu.
“Hah? Mana?” tanya Uun lagi.
Kemudian aku menoleh lagi ke arahnya, dan tersenyum “Hei!” sapaku.
“Awas!!” katanya kemudian dia menjauh dan mempercepat laju motornya.
Wuah.. aku tak melihat genangan air itu, tak bisa menghindar lagi sampai akhirnya aku membuat cipratan yang tinggi sekali. Aku dan Uun tertawa terbahak-bahak. Kemudian kulihat dia menoleh ke arahku, mungkin memastikan keadaan kami baik-baik saja, dia tertawa bersama teman-temannya. Aku baru sadar kalau motor yang dia kendarai ternyata sedang mogok, dan temannya yang mendorong dengan kakinya.
“Kenapa motornya?” tanyaku
“Kerendem di Gn. Malang” jawabnya dengan riang
“Banjir?” tanyaku lagi
“Hooh, ini motornya dia” dia menunjuk salah seorang temannya yang diboncengan “nah karena badanku yang paling ringan, mangkanya aku yang disuruh bawa, jadi enak dorongnya”
“Ooo…” jawabku basi. Kemudian dia menurunkan sebelah kakinya di atas genangan air, kontan saja cipratannya mengenai tubuh kami. Astaga… aku mandi air peceran. Tapi aku tidak kesal sama sekali, aku malah tertawa-tawa. Uun hanya bergidik di belakangku, dia kedinginan rupanya.
Tiba-tiba dia memandangi wajahku “Kamu gak papa?” aku mengerutkan keningku, heran, memangnya aku kenapa? “Mukamu pucat. Kamu gak papa?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, kan kulitku memang putih pucat. “Langsung pulang ya, nanti kamu sakit” kemudian dia melaju kencang bersama teman-temannya, Uun menahanku untuk pelan-pelan saja, karena dia benar-benar menggigil kedinginan. Meski aku harus menerobos banjir dan hampir menghantam balok ulin yang hanyut, tapi hatiku benar-benar bahagia, aku terus-terusan saja tersenyum sampai aku tak bisa tidur semalaman. Dan benar saja, besok paginya aku bersin-bersin dan ingusku meler gak brenti-brenti, lucu sih, karena biasanya aku baik-baik saja meski kehujanan sederas apapun. Uun bilang aku sakit pujungan, gara-gara semalam ketemu dia. Sepertinya Uun benar, karena esok harinya aku baik-baik saja. Bahkan tak ada tanda-tanda bahwa kemaren aku sakit.
Sebentar lagi valentine, aku pikir aku punya peluang mendekatinya, yah.. setidaknya dia masih ingat namaku, apalagi waktu itu Harisman bilang dia pernah membicarakanku “Iya.. aku seneng sama anak itu” begitu katanya. Maka aku titip sama Hery untuk membelikanku topi, ga urus sama harganya pokonya aku minta yang warna hitam polos. Ternyata saat kulihat topi yang dibelikan itu, aku kecewa, topinya jelek, kainnya jelek, warnanya juga ga benar-benar polos, ada les orange di pinggiran lidahnya. Aku menimbang-nimbang, apa kuberikan saja atau tidak? Akhirnya kuputuskan untuk membungkusnya dengan kertas kado dan membubuhkan beberapa kata di situ, tanpa nama pengirim tentunya. Kemudian setelah pulang sekolah, aku diam-diam menitipkannya pada Harisman. Jangan sampai teman-temanku yang lain tau, mereka pasti akan mengolok-ngolokku tanpa henti. Fiuuhh… sudah seminggu topi itu ada di tangan Harisman, katanya dia tak kunjung bertemu dengannya. Akhirnya aku menyerah dan meminta topi itu kembali. Melihat kekecewaan di wajahku, Harisman minta maaf. Tapi itu bukan salahnya, hanya waktu saja yang belum memberiku kesempatan.

2004
Aku memberanikan diri untuk menelponnya, dengan alasan bertanya-tanya tentang jurusan-jurusan yang ada di Unmul. Jantungku seperti berhenti berdetak saat mendengar suaranya. Entah apa dia mendengar suaraku yang bergetar atau tidak. Aku malu sekali. Aku mengutuk diriku yang melakukan tindakan memalukan itu. Akhirnya aku serahkan lagi semuanya ke Eka, biar dia saja yang tanya-tanya soal kampus. Eka malah dapat nomor handphonenya, dan memberikannya padaku. Cukup lama aku berpikir-pikir, apa yang harus aku lakukan dengan nomor ini? Eka terus-terusan menggodaku untuk menghubunginya, jika tidak dia yang akan menghubunginya. Aku bingung, mo ngetik apa? Semua yang terpikir di kepalaku adalah kata-kata basi. ‘Hai? Apa kabar? Lagi ngapain? Ingat aku gak?’ cih! Aku benar-benar payah! Aku bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi ketika memerlukan basa-basi seperti ini, aku jadi muak sendiri. Akhirnya aku mengiriminya sms, entah apa aku lupa. Yang jelas aku langsung ke pointnya aja ‘Adi kan? Ini Shinta’ kira-kira seperti itu. Tanganku keringatan menunggu balasannya, tak kunjung di balas, aku panik sendiri. Dan meyakinkan Eka kalau itu benar nomornya, Eka hanya mengangkat bahunya, karena dia sendiri belum pernah mencobanya. Deka yang sedang menyusun pakaian di lemari hanya heran melihat tingkah kami berdua. Aku ngekos sekamar dengan Eka dan Deka, meskipun sebenarnya kami tidak diperbolehkan tinggal bertiga dalam satu kamar, tapi mereka berdua tak ada yang mau tidur sendiri, aku sih gak masalah, masalahnya mereka berdua tidak saling kenal, aku adalah koneksi mereka. Deka teman SMPku, Eka teman SD dan SMAku.
Pagi-pagi, mungkin sekitar jam 6, aku terpekik tertahan dan melompat kegirangan. Smsku dibalas olehnya. Tapi tetap saja membuat Deka terkejut. Eka sedang menginap di rumah neneknya, jadi dia tidak ada di sini.
“Shinta, sialan!! Aku baru tidur habis subuh tadi!!” hardiknya. Aku hanya terkekeh dan meminta maaf. Kemudian aku terus-terusan bersmsan dengannya, meski aku sedang mandi sekalipun, aku tak ingin membiarkannya menungguku. Deka sampai geleng-geleng melihatku yang mondar-mandir dari kamar mandi ke kamar.
Sedikit insiden dengan penjaga kos, aku bertengkar dengannya. Deka dan Eka juga ikut keluar dari kos itu. Eka tinggal di rumah neneknya, aku dan Deka untuk sementara tinggal di rumah kakakku, sebelum kami dapat kos. Kamipun pulang dulu ke Balikpapan, menunggu pengumuman SPMB.
Aku baru saja pulang dari pasar, sama mama. Betapa terkejutnya aku dia ada di depan rumahku, lebih tepatnya dia berada di rumah kosong yang bersebrangan dengan rumahku. Ternyata dia temennya Dadam, tetangga depan rumah. Aku speechless, sekali lagi aku bukan tipe orang yang suka basa-basi, padahal aku butuh kata-kata basi saat ini, seperti ‘hai, ngapain?’ atau ‘loh? Koq bisa disini?’ atau apalah, yang ada aku hanya bisa mengunci rapat-rapat mulutku, dan tersenyum biasa saja. Aku mengutuk sifatku yang angkuh ini. Tapi aku tak henti memperhatikannya dari kamarku. Seandainya bisa kukatakan ‘betapa senangnya aku melihatmu di sini’ tapi aku hanya bisa memandangimu dari jauh, cukup punggungmu saja.
Suatu saat, dia mengajakku untuk ke Samarinda bareng, karena dia juga akan pergi ke Samarinda di tanggal yang sama. Aku membeberkan kekonyolanku yang selalu mabuk ketika naik bis, karena aku selalu muntah lebih dari 1 kali, minimal 3 kali. Kemudian dia menawariku untuk pergi saja bersamanya naik motor. Jelas saja aku mengiyakannya. Kemudian dia menelponku. Untuk pertama kalinya dia menelpon ke rumah. Aku begitu senang mendengar suaranya. Setelah kami merencanakan keberangkatan kami, diapun menyudahi acara telpon-menelpon itu, cukup lama, hampir setengah jam sepertinya. Sangking senangnya, aku melompat-lompat ke sana kemari sampai kakiku berdarah karena terinjak tusuk gigi.
Jam 3 sore dia datang menjemputku, dan untuk pertama kalinya mama dan papaku mengantarku sampai depan pintu. Membuatku malu saja, karena mereka tidak pernah begitu sebelumnya. Karena biasanya aku pulang dan pergi sesuka hati, mereka juga tak terlalu peduli dengan siapa aku pulang dan pergi, sama teman atau sendirian, sama saja buat mereka. Mereka juga tak pernah menelpon untuk menanyakan apakah aku sudah sampai atau tidak. Orang tuaku memang cuek, entahlah mereka peduli atau tidak. Meskipun mereka peduli, toh aku tetap mengacuhkannya. Jadi sama saja.
Sepanjang perjalanan, dia banyak bercerita. Menceritakan bahwa aku wanita kedua yang dia bonceng ke Samarinda, karena dia tak pernah mengajak wanita manapun sebelum aku, wanita pertama yang dia bonceng itu temannya, katanya itupun dia dipaksa oleh teman-teman yang lain. Aku tersenyum-senyum sendiri, tak peduli aku wanita keberapa, duduk di belakangnya seperti ini saja sudah membuatku malas menginjakkan kakiku ke tanah, ya.. aku terbang, melayang. Dia menceritakan betapa kagumnya dia dengan Peterpan, Avril lavigne, dan semua yang berhubungan dengan bintang, dan anehnya dia sama sekali tak menyinggung tentang NIRVANA meski di tasnya ada tulisan “I    MY BITCH”. Dia menceritakan tentang 3 buah bintang yang berjajar diagonal padaku, bagaimana bintang itu seperti punya pengaruh besar padanya. Jika bintang itu tidak ada, maka hidupnya akan penuh masalah dan semuanya akan membaik ketika bintang itu kembali. Entahlah aku tak terlalu menyimak saat itu, suaranya terbawa angin dan aku tuli oleh kata-kata, karena dia seperti bersenandung, membuatku terhanyut dalam suatu dunia yang penuh bunyi2an indah, padahal itu berasal dari suaranya yang sama yang dulu pernah begitu kubenci. Kemudian dia bercerita tentang seorang wanita bernama Bulan, sepertinya dia benar-benar mencintainya. Aku tetap tersenyum mendengarnya, aku tak merasakan rasa sakit apapun, entah mengapa mungkin seharusnya aku merasakan cemburu meskipun sedikit, tapi aku tidak merasakan itu sedikitpun. Aku.. aku terlalu bahagia berada di dekatnya, sedekat ini? Mimpipun sepertinya aku tak sanggup, apalagi ini bukan mimpi. Dia benar-benar di depanku, aku benar-benar bisa melihatnya, meskipun aku takut untuk menyentuhnya. Tapi segini saja cukup, biarkan aku menikmati rasa ini, tanpa harus mencampur adukkan perasaan lainnya. Aku malah menyemangatinya bahwa jika benar bulan ada untuk bintang, maka bulan pasti kembali. Maka kamipun bernyanyi bersama lagu “Kau Milikku – Baim” kulihat bulan dan bintang itulah dirimu dan diriku seharusnya kau dan aku tetap memiliki. Namun kuyakin kau kembali untukku.
Kami singgah di warung makan di daerah Pramuka yang hampir roboh itu tapi bagiku seperti makan di restoran Perancis, meskipun aku tak pernah menginjakkan kakiku ke restoran yang dianggap sebagai simbol keromantisan itu, aku ingat dia pesan apa “Ga apa-apa kalau rawonnya habis, tapi kuahnya masih ada kan? Saya minta nasi pake kuah rawon, kasih pentolan bakso aja pak, sama es teh satu” . Aku tersenyum kecil dan menggeleng, dan berkata dalam hati buset dah! Mentang-mentang demen item jadi makanpun harus yang item juga, ga mau yang lain. Kami makan dengan tenang, sampai akhirnya dia berhenti dan menatapku, kemudian berkata “Topinya masih ada kan? Kamu simpan di dalam kotak, dalam lemari laci ke dua” tebaknya tepat.
Otomatis aku menghentikan kegiatan makanku, hampir tersedak. Aku terperanjat, apa-apaan ini?? Kenapa dia tau persis keberadaan topi yang dulu hendak kuberikan padanya, padahal tadi aku sudah berkata kalau topi itu sudah rusak dipakai teman-teman, dan hilang. “Koq.. koq tau?” tanyaku gugup. Dia tersenyum mengejek, kemudian melanjutkan makannya. Selera makanku benar-benar hilang saat itu. Logikaku tak mampu menjawab apapun, ibuku saja tak tau isi lemariku, apalagi dia? Belum habis keterkejutanku dia menatapku tajam dan berkata “Berarti kamu sudah bohongin aku 2 kali” di skak seperti itu semakin membuatku ketakutan, pertama kalinya kami menghabiskan waktu bersama seperti ini, aku sudah merusaknya dengan berbohong, 2 kali pula. Astaga! Bahkan aku tak ingat kebohonganku yang pertama. Aku bingung, salah tingkah entahlah, aku tak bisa bicara, bukan, aku takut bicara. Tadinya aku melayang-layang setinggi-tingginya, dan sekarang tiba-tiba saja seperti ada halilintar yang menjatuhkanku. Sekali lagi aku mengutuk kebodohanku sendiri, tapi syukurlah sepertinya dia tak ambil pusing, dan melupakannya begitu saja. Yah inilah yang menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapa saat ini, tak penting perasaanku seperti apa, dia tetap tak melihatnya. Jika aku memang berarti, maka dia sudah pasti akan memperdebatkan masalah ini. Tapi sudahlah, siapa aku? Hanya penumpang asing yang sangat beruntung. Aku sampai di rumah kakakku jam 9 malam, dan jelas saja dia membuatku tak bisa tidur, dan sepertinya aku tak tidur berhari-hari, terlalu bahagia, terlalu membekas, terlalu berkesan, terlalu indah.
Akhirnya aku memutuskan untuk membeli topi baru di lembuswana keesokan harinya. Aku tak sempat pulang ke Balikpapan, meski dia sangat menginginkan topi itu, karena dia terus-terusan menanyakannya. Dan kupikir, jika menunggu aku pulang ke Balikpapan dan kembali lagi, aku takut tak bisa bertemu lagi dengannya, jadi kumanfaatkan saja waktu yang terbatas ini, entahlah aku selalu merasa kebersamaan kami selalu dibatasi oleh waktu. Dan tepat pada ospek hari pertama, aku memberikan kepadanya. Subuh itu, dia menungguku di depan gang 8 di soetomo. Aku menikmati keindahannya duduk jongkok mematung sejak aku melihatnya dari ujung tikungan pertama, sehingga aku mengurangi laju motorku agar bisa memandangnya lebih lama dari kejauhan, karena aku tak mampu memandanginya dari dekat, aku takut memuntahkan jantungku yang berdegup-degup tak karuan di hadapannya. Kini aku tepat di hadapannya, dia berdiri, tanpa senyum, meraih stang motorku, kemudian kurogoh tasku dan kuberikan topi itu. Dia memandanginya, dan sebelum dia mengatakan sesuatu aku meminta maaf terlebih dahulu karena ini bukan topi yang dimaksud, topi ini baru saja kubeli disini, bukan topi yang ingin kuberikan waktu SMA dulu. Dia meraih topi itu, dan mengganti topi yang dia kenakan dengan topi yang kuberikan. Aku tersenyum kecil, kemudian dia mengantarku ke gerbang Ruhui Rahayu, tempat para panitia ospek menunggu subuh itu.

2005
Aku sudah menemukan tempat kos, di pramuka 8. Eka di pramuka 5. Waktu itu aku berjanji sama Erik, Michael dan Leo untuk mencarikan pacar untuk mereka. Dan dengan seenaknya aku menjodohkan mereka dengan teman-teman SMAku, Dila, Sheila dan Iin. Dan kuperkenalkanlah mereka semua, Iin gak mau keluar, karena dia terus-terusan diejek-ejek Leo, dan dia mengutukku sebagai biang keroknya, aku hanya tertawa jahil tanpa rasa bersalah. Kemudian aku mengantarkan ketiga cowok ini ke kos Dila dan Sheila. Ketika tiba-tiba Eka mengirimiku sms bahwa dia bertemu dengan dirinya di warung makan yang sama waktu itu, dan Eka menyuruhku untuk cepat datang, karena dia sudah susah payah menahannya untuk tidak pulang. Setengah berlari kutinggalkan mereka berlima, meskipun Sheila memandangku dengan tatapan membunuh, aku tetap saja berlari ke warung itu, hampir dekat. Aku berhenti sejenak mengatur nafas agar dia tak perlu tau bahwa aku berlari-lari demi bertemu dengannya, padahal ada motornya Erik dan Leo yang bisa kupinjam. Entahlah, aku tiba-tiba kehilangan akal sehat. Eka meninggalkan kami berdua, sekali lagi aku tak menyimak kata-katanya, suaranya benar-benar seperti dentingan musik indah di telingaku. Sampai akhirnya aku menoleh, terkejut ketika dia berkata “Ya.. aku sudah menemukan salju yang menyejukkan hatiku. Aku gak perlu Bulan lagi” aku tertunduk, dan tersenyum pahit. Aku terlambat. Tidak. Tidak. Aku tidak terlambat. Hanya saja dia tidak melihatku. Itu saja. Kemudian aku berjalan gontai kembali ke kos Dila dan Sheila. Tersenyum bahagia di hadapan mereka, karena aku baru saja bertemu bintangku. Aku mengubur dalam-dalam rasa kecewaku, agar tidak membunuh kebahagiaanku. Bertemu dengannya itu hal yang sangat sulit. Lihat saja, selama bertahun-tahun kami selalu di kota yang sama, dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja aku kesulitan bertemu dengannya. Tak apa-apa, aku tak apa-apa, aku bahagia jika dia bahagia. Jadi kumohon berbahagialah. Meski aku tak dapat menyentuhnya, aku cukup bahagia karena bisa menikmati cahayanya.
Suatu hari dia datang ke kosku hendak meminjam kaset Radiohead ‘Pablo Honey’ karena ada lagu creep disitu, lagu kesukaanku yang sebenarnya cukup jelas menggambarkan isi hatiku padanya. Entahlah apakah dia mengerti isi hatiku atau tidak, tapi dengarkan saja. Aku berdoa semoga dia mengerti, karena aku adalah wanita yang terlalu tinggi hati dengan ego dan harga diri yang sangat-sangat tinggi, aku tidak mau menundukkan kepalaku hanya untuk laki-laki, hingga aku sama sekali tidak ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Tetap kusimpan saja baik-baik, berharap suatu saat dia bisa melihatnya sendiri. Tapi dia tak kunjung melihatku.

2008
Aku sedang menikmati kafein yang masuk ke dalam tubuhku yang diselingi dengan nikotin di sebuah meja dekat jendela di pasifica, sambil memperhatikan angin yang membuat pohon-pohon kelapa menari-nari secara brutal. Sepertinya akan ada badai, dan benar saja, hujan malam itu begitu deras, dan membuatku terjebak berjam-jam disini bersama Rendy dan Resty, teman sekantorku. Resty terus menerus mengutarakan keberatannya atas racun-racun yang aku dan Rendy isap sejak tadi. Tapi sepertinya kami terlalu keras kepala untuk menggubris ketidak nyamanan Resty. Kami hanya menertawakannya saja, Rendy malah menawarkan rokok padanya, dan membuatnya mencubit tangan Rendy.
“Sudahlah Coki, makan aja situ” kata Rendy. Resty memang kami panggil Coki. Rendy kami panggil om, dan aku dipanggil Ciko. Aku dan Coki memposisikan diri sebagai keponakan kembar (meskipun kami sama sekali tidak mirip) yang sangat nakal, jahil dan usil. Om sering memarahiku, karena aku benar-benar bandel, sedangkan jika Coki yang berulah, om tidak terlalu memarahinya karena Coki manja, om luluh. Tapi kalau sama acil.. Coki bakal dipelototin atau kena cubit, kalau aku sudah pasti lari sebelum dimarahi acil.
“Tapi om… asepnya ganggu naah. Om jauh-jauh sana” kata Resty dengan nada manja khas Coki.
“Aku dah jauh loh, Coki” kataku santai.
“Tapi asepnya, Cikoooo…. tetep aja sampe sini!!” protesnya.
Setelah akhirnya rokok kami berdua habis, dan Resty bisa bernafas lega. Kami melihat jam. Sudah jam 10, mall ini hampir tutup. Maka Rendy pun menyeret kami berdua untuk segera pulang. Dengan malas aku mengikuti mereka berdua. Resty melompat-lompat dengan lincahnya disamping Rendy. Dan aku tentu saja mengikuti mereka di belakang, dengan topi yang menutupi separuh wajahku. Resty mau ke supermarket sebentar, aku juga berencana ke sana. Maka ketika kami hendak berbelok. Aku melihat sosok yang kukenal di tangga escalator itu, sial!! Gimana ini? Aku mau jalan saja terus tanpa berbelok, tapi teman-temanku sudah 3 meter menjauhi belokan itu, akhirnya akupun berlari kecil mengejar mereka, mencoba bersembunyi di belakang Rendy yang tinggi. Berharap dia tak melihatku, dan topi ini kurasa cukup menenggelamkan wajahku. Ketika kami hampir mendekati escalator itu, aku menarik tangan Resty dan berusaha jalan berdempet-dempet dan menunjukkan padanya deretan roti-roti yang menggiurkan di sebelah kananku. Tapi..
“Santi…” katanya sambil lalu. Dan aku menarik nafas kesal, kesal karena dia menyadari kehadiranku, kesal karena dia melupakan namaku. Dan aku pun berhenti berjalan. Dan memutar badanku.
“Shinta!!” tegasku.
Dia meringis, kemudian kulihat matanya berbinar-binar. Deg! Sialan! Aku masih merasakan perasaan itu.
“Hai, apa kabar?” tanyanya.
“Baik” jawabku
“Sudah nikah?”
“Belum”
“Itu siapa?” dia mengedikkan kepalanya ke arah Rendy yang berdiri bersama Resty di belakangku  “Pacarmu?” tanyanya. Aku menoleh dan tertawa kecil. Membayangkan keponakan yang pacaran sama omnya sendiri membuatku geli setengah mati.
“Bukan” jawabku sambil tak henti tertawa.
“Trus, pacarnya mana?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan kening, mendengar pertanyaan yang kuanggap konyol itu. Kemudian aku menggeleng.
“Kalo gitu, minta nomor hape dong”
Sekali lagi aku tertegun, terkesima, terperangah entahlah ekspresi apa yang tepat saat itu. Bukan karena pertanyaan dan permintaannya, tapi aku menemukan satu sisi lain dari dirinya. Astaga! Aku sudah mengikutinya selama 9 tahun terakhir, bagaimana mungkin aku tak tau dia memiliki sifat sepeti cowok murahan seperti ini. Aku kehilangan pesona misteriusnya.
“Nomor hapeku ga berubah koq, masih sama” jawabku dingin. Entah dia merasakannya atau tidak. Tapi sepertinya tidak, buktinya dia masih tersenyum-senyum ceria. Aku yakin dia tak menyimpan nomorku dengan baik, sampai perlu menanyakannya lagi. Jadi sebelum dia bertanya maka langsung saja kuteruskan “08125499293” kemudian dia memiskolku.
“Masuk” kataku. Dan ketika aku hendak mengetik namanya di phone book.
“Ketik aja Jintut, kayak waktu SMA” katanya. Aku mengerutkan keningku, apa ingatannya rusak separah itu? Aku kan bukan teman SMAnya? Aku benar-benar tidak mengerti, lalu cepat-cepat kuhapus huruf B dan I yang sudah kuketik dan kuganti dengan Jintut. Padahal waktu itu dia memintaku memanggilnya bintang, dan dia memanggilku dengan sebutan bermacam-macam, pantai, langit, dan kali ini…. Santi??? Dia benar-benar tidak mengingatku sehebat aku mengingatnya. Ternyata aku tidak sespesial itu. Baiklah.. aku mengerti.
“Kerja dimana?” tanyanya.
“Oh.. aku lagi coop aja di TOTAL” jawabku.
“Aku kerja di BASARNAS” katanya.
“Pantes pake baju SAR” timpalku garing. Karena aku tak tau lagi apa yang bisa aku tanyakan atau katakan, akhirnya aku pamit pergi. Aku terputar-putar mencari Rendy dan Resty yang ternyata sudah meninggalkanku entah kemana. Sialan!! Dimana kaliaaannn??? Aku sudah salah tingkah begini, maen tinggal-tinggal aja.
Sesampainya di rumah, dia mengirimkan sms. Aku memandangi tulisan itu berkali-kali, berbeda dengan yang dulu, aku pasti akan langsung membalasnya dan tak membiarkannya menungguku. Kali ini perasaan seperti itu tidak ada, aku hanya tak ingin membalasnya, karena jika aku membalasnya, aku yakin harapan itu tumbuh lagi, sudah susah payah kutidurkan perasaanku ini, karena aku tak sanggup membunuhnya, jadi kutidurkan saja dan aku tak ingin membangunkannya. Sakit. Mencintainya itu terlalu menyakitkan. Rinduku terlalu sulit untuk dibendung. Jadi kubiarkan saja sms itu, sampai akhirnya dia mengirimiku sms lagi, meminta maaf jika dia menggangguku. Aku diam saja, tetap tak bergeming.
Bogel, teman SMAku yang berada di Jogja sana selalu menelponku setiap jam 1 malam. Ada hubungan khusus diantara kami, meski bukan pacar, karena kami sama-sama tidak ingin terikat. Aku ceritakan padanya bahwa aku bertemu lagi dengan bintangku. Dia terdengar senang dan mengatakan bahwa aku harus segera mengutarakan perasaanku kepadanya. Jangan sampai nggak.
“…mau berapa tahun lagi kamu nunggu Tronk?” tanyanya. Aku menghela nafas pelan.
“Kamu gimana?” tanyaku, aku takut aku menyakiti hatinya.
“Santai aja, kan aku sudah bilang, yah kita gini-gini aja, gak terikat. Kalau kamu punya pilihan lain ya silahkan.” katanya santai.
“Bener ga apa-apa?” tanyaku lagi. Dia malah tertawa.
“Santai aja lagi, Tronk. Pokoknya nanti kamu langsung aja bilang ke dia, jangan ditunda-tunda lagi. Semangat, Tronk!” serunya.
“Thanks ya Gel” ucapku tulus. Kemudian dia memainkan lagu Joe Satriani “with you with me” entah sejak kapan teleponnya terputus, sebab aku tertidur.
Pagi itu aku membalas sms bintangku, yah kukatakan saja aku sudah tidur dan tidak punya pulsa. Setiap smsan sama dia, ga pernah satu atau dua kali saja, bisa sampai puluhan dalam 1 hari, bahkan terus berlanjut ke hari berikutnya dan begitu seterusnya. Jika aku sudah memutuskan untuk membiarkan perasaanku ini melahapku, maka aku tak peduli lagi, akan kuganggu dirinya terus menerus. Perasaan ini terlalu lama terpendam, ada yang pernah mengatakan “cinta itu seperti pedang yang memiliki 2 sisi yang tajam” tapi bagiku cinta yang kupendam ini, cinta yang menyakitkan ini ibarat pedang dengan 2 sisi yang tajam dan tanpa gagang, semakin ku genggam maka aku semakin terluka. Kupegang dari arah manapun, aku tetap terluka. Blood-stained sheet in the shape of my heart.

Januari 2009
Aku ingat hari itu hari Minggu, karena aku sedang bersantai-santai di kamar omku yang gelap, nonton DVD yang kupinjam dari Agnez, sepertinya aku terisak-isak saat menonton film SAW VI. Syukurlah tak ada siapapun selain aku disitu. Ya.. konsentrasiku pecah karena beberapa saat yang lalu aku mengutarakan perasaanku padanya lewat sms. Aku sudah tak tahan lagi. Terlalu sakit untuk kugenggam sendiri. Jadi kukatakan saja, dia terkejut karena sudah 9 tahun aku mencintainya tanpa dia ketahui. Bukan. Kurasa dia bukan tidak tau, tapi kurasa dia menutup mata, hingga dia tak bisa melihatku. Aku malu sekali waktu itu, bahkan sangking malunya, aku sampai menangis dan menghapus nomornya. Aku pikir, cukuplah dia tau isi hatiku. Aku tak ingin bertemu lagi, meski dia ingin sekali bertemu denganku dan membicarakannya, tapi aku tidak mau karena ini benar-benar memalukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengutarakan isi hatiku pada seorang pria. Aku kehilangan muka, harga diriku runtuh, itu sebabnya aku malu. Aku hanya ingin mengatakannya saja, aku tak ingin membicarakannya lagi, aku tak berharap apapun, itu sebabnya aku ingin menghilang saja. tak menghubunginya lagi. Cukup. Cukup. Cukup.

Juni 2009
Aku sudah selesai coop, aku sudah di rumah lagi, kali ini aku kerja di sebuah kafe di M. Yamin, namanya Force Kafe, cukup seru. Yah setidaknya aku sudah lumayan terbiasa berada di tengah keramaian, meskipun masih agak sedikit jengah, kacamataku lumayan membantu, setidaknya penglihatanku terbatas karena kacamata ini. Banyak konflik di sini yang aku sendiri tidak mengerti, bukan tidak mengerti, tapi aku malas saja ikut campur, aku tak peduli, yah meskipun suasananya agak aneh. Aku hanya bertindak professional, yah pengalaman kerja disana sini, membuatku terbiasa menyamankan diri dengan kondisi pekerjaan ataupun lingkungan kerja yang bahkan tidak nyaman sekalipun. Dengan cara, kerjakan saja apa yang sudah jadi tugasku dengan baik, tutup mata, telinga dan hati. Hanya itu modalku.
Pagi itu aku terbangun dengan suara dering hapeku yang berisik. Kubuka smsnya dan mengerutkan kening, tanpa nama hanya nomor saja, isi sms itu menanyakan kabarku. Aku menggaruk-garuk kepalaku, dan dengan mata yang masih separuh terbuka, aku menanyakan siapa orang ini. Ternyata dia, aku terperanjat dan menutup mulutku dan memandangi tulisan-tulisan di hapeku, sial!! Apa yang harus kukatakan?? Tak mungkin aku berkata ‘maaf ya Di, aku sudah hapus nomor kamu, mangkanya aku gak tau, hehe’ memang blak-blakan seperti itu ciri khasku, tapi entah mengapa aku tak bisa seperti itu padanya. Aku berfikir dan menemukan alasan klise seperti yang sering terjadi pada teman-temanku ‘sori hapeku eror, nomernya pada ilangan’.

Juli 2009
Tahun ini, teman-teman di kafe merayakan Ultahku yang ke 23 tepat jam 12 malam, diawali dengan kata sambutan dari Ari di atas ‘panggung’. Yah kami biasa menggunakan property yang biasa digunakan band, ketika kafe sudah tutup. Kemudian Budi menarikku untuk duduk di depan panggung. Ari mengambil gitar dan Tengkoseng pun ikut menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, suara mereka dan suara gitar, sama saja bututnya, membuatku tertawa saja. Tak lama Duan pun membawakan Roti Bun untuk burger 2 buah dan diberi lilin bekas ulang tahun, kemudian Agus menyusul membawa 2 buah botol anggur merah, Bibit membawa 2 kotak rokok. 222, seperti sebuah pertanda. Tapi aku tak menggubrisnya saat itu. Apa peduliku? Toh aku belum mengerti, saat itu. Aku hanya bergembira malam itu menikmati roti dan rokok, tanpa anggur, karena aku bukan peminum.
2 hari setelahnya, aku memulai double job, pagi di warnet dan malam di kafe, cukup menguras tenaga, tapi aku senang. Aku tak punya waktu berfikir, hanya bekerja sambil bersenang-senang saja. tepat saat pagi pertamaku di warnet. Bintang menyapaku di chat fb, mengucapkan selamat ulang tahun, aku mengucapkan terima kasih. Sejak itu aku terus-terusan saja chatting dengannya, dan dia tetap tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu denganku, bahkan dia ingin mendatangiku di kafe tempat kerjaku. Wow! Aku benar-benar tidak siap. Aku masih malu padanya. Rasanya aku tak sanggup untuk melihatnya. Tapi sepertinya dia tak peduli, dia malah berkata hendak memelukku di depan umum. Wow! Apa dia ingin mempermalukanku? Aku benar-benar tak sanggup membayangkannya. Ingin rasanya aku lenyap saja.

Agustus 2009
Dia di sini, aku melihatnya memarkir motornya, tepat ketika aku hendak membakar rokokku. Kemudian aku berlari ke dapur, mencoba menenangkan diri, teman-temanku sampai bingung karena aku membakar rokokku dengan tangan gemetar, sampai korekkupun tak bisa menyala. Dan Tengkosengpun membakarkan rokokku, tanganku masih gemetar memegang rokok. Aku gelisah, bagaimana ini? Tak lama dia sms. Menyuruhku untuk mendatanginya di meja 34. Aku sudah tau, tapi aku pura-pura tak tau, karena aku pura-pura sibuk untuk membuang waktu, dan menenangkan diriku sendiri. Aku benar-benar lemas, sepertinya semua tulang di tubuhku lenyap begitu saja. Aku menghela nafas kuat-kuat, untuk membuang rasa grogiku. Ketika aku melangkah ke arahnya, dia mempersilahkan aku duduk di sebelahnya. Aku hanya meremas-remas tanganku yang dingin, akupun hanya menunduk menatap tanganku yang tak berhenti saling menghangatkan satu sama lain. Dia memandangiku, bahkan menertawai tingkahku. Astaga.. aku malu sekali. Dia duduk menghadap ke arahku, aku semakin ingin menghilang detik itu juga. Entah apa yang dibicarakannya, aku benar-benar tak dapat mencernanya, aku juga tak ingat apa saja yang kukatakan, sepertinya aku banyak diam. Yang aku ingat hanya ketika dia ingin menyentuh tanganku untuk mendiamkan tanganku yang tak berhenti beraktivitas, namun aku menolak dan menahan diri untuk tidak menggerakkannya lagi, sebagai gantinya, justru tubuhku yang bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Dia tertawa lagi. Ya Tuhan.. aku mau pingsan mendengarnya tertawa, aku begitu merindukannya tertawa lepas seperti ketika dia mengancam Ipul waktu itu, tak pernah lagi kutemukan tawa membahananya itu. Entah apa yang terjadi padanya, terlalu banyak perubahan dari dalam dirinya, aku kehilangan keceriaannya. Segala sesuatunya tampak dipaksakan, entah apa yang dia pendam selama ini, sehingga dia berubah drastis. Seseorang yang pada awalnya aku kenal sangat jahil, rusuh, ribut, berisik, seperti orang gila, kemudian berubah menjadi seseorang yang sangat pendiam dan misterius seperti dirundung kesedihan abadi, kemudian berubah lagi menjadi seperti ini, seperti di hadapanku ini, menjadi seseorang yang ‘palsu’, yang tawanya dipaksakan, keceriaan yang hampa, senang menggoda wanita sana sini, benar-benar seperti cowok murahan. Mempermainkan hati para wanita, sama seperti pria brengsek lainnya. Aku seperti tak mengenalnya sama sekali, aku kehilangan satu sosok yang kurindukan. Sepertinya rindu itu tidak akan pernah terjawab, karena aku tak tau kapan sosok itu akan kembali muncul dari dalam dirinya.
Malam itu, dia ingin mengantarkanku pulang, tapi aku menolak, karena rumahku terlalu jauh, dia hanya tertawa meremehkan jarak. Tapi dia memaksa, dan sepertinya dia melihat keengganan di wajahku, atau itu hanya trik agar aku merasa bersalah karena telah menolaknya mengantarkanku, entahlah. Yang jelas aku melihatnya pergi duluan meninggalkanku di kafe. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Dan Ucok melihat gelagatku yang gelisah dan mentertawakanku, kemudian menawariku rokok. Akupun merokok bersama Ucok, sambil bercerita tentang masalah organisasi dan segala macam birokrasi di kampus. Bintangku mengirim sms, isinya kurang lebih minta maaf karena dia merasa kehadirannya tidak aku inginkan. Itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, aku merindukannya, benar-benar merindukannya, tapi bukan Adi yang ini, Adi yang jauh tersimpan di dalam, seseorang yang membuat duniaku pasang surut tak karuan, bukan orang yang ‘palsu’ ini seseorang yang benar-benar tak membuatku bereaksi sebagaimana semestinya aku. Meskipun aku tak memungkiri bahwa aku tetap gugup, gemetaran dan sebagainya. Tapi aku mencari sesuatu dalam diriku, suatu reaksi yang harusnya ada, sesuatu seperti ledakan yang biasa terjadi dalam hatiku jika bertemu dengannya, sesuatu yang membuatku melupakan segalanya selain perasaan bahagia ketika bertemu dengannya. Karena kali ini aku merasakan kehampaannya menular padaku.
Karena aku ingin menyelesaikan segalanya malam ini juga, agar aku tak perlu lagi berurusan dengannya, maka akupun mendatanginya di kampusnya, untuk berbicara. Karena aku pikir dia ingin aku mengutarakan isi hatiku secara langsung padanya. Baiklah akan aku lakukan. Tapi ternyata sesampainya aku di sana, aku merasakan sensasi yang sama. Suatu kehampaan, kehampaan yang ternyata berasal dari matanya yang sekelam malam. Aku benar-benar tak melihat cahaya di sana. Mata itu justru membuatku takut, seolah mata ini hendak melahapku. Aku tak begitu mengerti apa yang dia bicarakan, dia terus menerus mengatakan hal yang rumit dan tak ku mengerti, sementara aku sedang berperang dengan hatiku, mencari-cari sesuatu yang salah di sana. Dia memberiku cincin yang aku sendiri bingung memakainya, karena ini adalah satu-satunya aksesoris yang tidak pernah kukenakan, entahlah aku hanya merasa risih saja jika ada benda di jariku. Dia memintaku memainkan gitar, dan aku masih saja sibuk memindah-mindahkan cincin itu dari jari satu ke jari lain. Aku kebingungan sendiri, jari mana yang cocok, rasanya tak ada yang cocok. Dia memperhatikanku dan menyuruhku melepasnya saja kalau memang tak mau kupakai. Akupun cepat-cepat menghentikan kegiatanku memindah-mindahkan cincin, dan kubiarkan saja cincin itu berhenti di jari entah yang mana. Aku menyanyikan lagu creep dan patience untuknya. Seluruh lirik creep benar-benar mencerminkan perasaanku u’re so fucking special, I wish I was special, but I’m a creep, I’m a weirdo, what the hell am I doing here? I don’t belong here. Ya tidak seharusnya aku di sini, jika aku tak ingin terluka, tapi aku sudah di sini. Dan liriknya patience I’ve been walking this street tonite, just trying to get it right…. I ain’t got time for the game cuz I need you this time. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, dia hanya berkomentar kalau aku menjiwai sekali. Ya jelas saja, aku bernyanyi dengan hatiku, jika saja dia memperhatikan mataku yang berkaca-kaca saat itu. Aku banyak menunduk, tentu saja dia tak lihat, kemudian diapun mengantarku pulang.
Banyak hal yang terjadi di bulan ini, dimana aku bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, teka-teki tentang dirinya, aku menemukan seluruh bagian dari dirinya yang hilang, kemudian kususun dengan rapi puzzle-puzzle itu sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Ya.. aku mengenalnya seutuhnya.
Malam itu di bawah ring basket di kampusnya, aku menangis sesenggukan di hadapannya ketika aku menceritakan sesuatu yang benar-benar memalukan, rahasia terkotorku. Dia mendengarnya dengan seksama, seolah hal itu bukan masalah baginya. Tidak. Aku tak pantas menerima perlakuan seperti itu, seolah-olah dia menerimaku apa adanya, seolah-olah dia tetap menyayangiku apapun kecacatanku. Tidak. Tidak. Seharusnya dia mendapatkan kesempurnaan. Seharusnya aku bisa memberikannya kesempurnaan. Dan ketika itu, dia mengatakan dia menyayangiku, membuatku semakin tersiksa dengan ketidakmampuanku untuk menjadi sempurna. Aku merasa bersalah padanya akibat ketidaksempurnaanku ini. Malam itu juga, dia memberiku bingkai di hatinya, berbeda denganku yang memberikan seluruh hatiku padanya, ‘ambil saja semua dan hancurkan saja dengan blender sesukamu, aku rela’ kurang lebih seperti itulah kata-kata yang kukutip dari sebuah film, karena memang hanya dia yang memiliki hatiku. Kemudian dia memelukku, dan baru kali itu aku merasakan kehangatan di pelukannya. Karena biasanya aku merasa seperti memeluk tiang, pohon, bahkan terkadang seperti memeluk udara, semacam itulah, sesuatu yang mati, kosong, hampa, tak ada, entahlah. Dan untuk pertama kalinya, aku menyambut Ramadhan tahun ini dengan sahur bersama seorang pria. Aku menemukan lagi rasa bahagia yang aku cari-cari, ledakan itu, sensasi itu kembali lagi. Kebahagiaan yang mengalahkan segala perasaan negatif.

September 2009
Inilah bulan itu, dimana kami benar-benar menjadi 1. Di suatu malam, sebuah keajaiban terjadi. Ternyata aku mampu memberikannya sesuatu yang sempurna, sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, dan betapa bahagianya aku ketika aku melihat matanya yang bercahaya lagi. Betapa indahnya, warna matanya cokelat terang dan bercahaya. Aku merasa nyaman memandangi mata itu lama-lama, ketakutanku menghilang jauh. Aku merasa damai setiap kali dia memelukku. Aku seperti enggan memejamkan mataku, wajahnya begitu indah, sebuah pahatan yang sempurna, aku senang sekali meraba wajahnya dengan jari-jariku, agar aku tetap mengingat wajahnya meski dalam kegelapan sekalipun, bahkan jika suatu saat aku buta. Apa jadinya aku andai kamu gak ada? Tanpa kamu aku bukan apa-apa. Dan aku sangat butuh dan aku ingin slalu kau sentuh. Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku. Cuma kamu yang mampu mengendalikan aku. Aku. Kamu. Satu. Apa jadinya dunia bila kau tak senyum? Tanpa kamu aku pasti mati.
Pagi itu tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 pukul 9 lewat 9. Dia memang merencanakan sebelumnya, hendak menjadikan diriku sebagai bagian kecil dari dirinya. Dia menelponku dengan suaranya yang riang, membuatku tersipu-sipu. Aku bahagia sekali, sampai aku tak peduli lagi ada bencana besar menunggu di depanku. Kebersamaan saat ini, meski hanya sesaat. Tak akan kunodai dengan kekhawatiran, aku ingin membuatnya bahagia. Ambil saja semua sari pati kehidupanku ini, dan berbahagialah. Aku rasa aku tak akan apa-apa, asalkan dirinya bahagia. Kumohon jangan bersedih.

Oktober 2009
30 Oktober 2009. Ini hari Ulang Tahunnya yang ke 25, kami merayakannya bersama, tetapi hanya dengan lilin berbentuk hati. Aku memang menyediakan lilin ulang tahun, tapi aku tak sempat membeli kue, karena kami kemalaman tiba di Balikpapan, dan Bondy sudah tutup. Jadi mau tak mau, kami hanya meniup lilin itu bersama-sama. Aku berjanji dalam hati, akan membelikannya kue besok.
Dia berkata hari ini adalah hari perpisahan kami, tepat di hari Ulang Tahunnya ini. Aku mengiyakan saja, meski aku tak sanggup. Dan aku tak bisa menutupi bahwa aku tak sanggup tanpanya. Penantianku begitu panjang, tapi hanya ini yang kudapat? Aku juga manusia yang sama seperti mereka, yang tak bisa menahan diri untuk tidak protes karena tak puas dengan jalan takdir yang sudah ditentukan. Aku menangis di pangkuannya. Dan aku tau, dia juga menangis, aku merasakan butiran hangat menjatuhi tubuhku. Jadi aku berhenti menangis agar dia tak menangis. Hal yang paling sulit adalah melihatnya menangis. Hatiku rasanya tercabik-cabik. Sakit sekali. Aku putuskan tidak merusak hari terakhir ini, dengan bersedih. Mari bersenang-senang.
Dia bertanya, mengapa aku begitu senang, tertawa-tawa dan terus-terusan bernyanyi sepanjang jalan pulang ke Samarinda. Padahal ini hari terakhir. Aku tak mampu menjawab, aku terus saja bernyanyi sambil memeluknya. Apa yang membuatku bahagia? Entahlah, aku hanya merasa ada larangan untuk mengeluarkan air mata dan bersikap murung di depannya. Aku tidak ingin membebaninya dengan wajah sedih dan ketidak relaanku melepaskannya. Biarkan wajah bahagia ini yang melepas kepergiannya. Lagipula banyak hal lucu yang perlu ditertawakan, bukan ditangisi. Misalnya saja, shizu motornya harus kami derek berdua karena rusak parah. Aku sedih, bahkan shizu pun jadi korban keegoisan cinta kami. Tapi sudahlah tertawakan saja.

November 2009
Fiuuhh… aku pikir aku tak bisa bertemu lagi dengannya, ternyata baru saja dia kembali ke Balikpapan, setelah mengantarku. Malamnya dia menelpon. Dia speechless mendengar suaraku, baru beberapa jam yang lalu kami bertemu, dia sudah merindukanku lagi. Akhirnya dia patahkan semua aturannya. Dia putuskan untuk terus bertemu denganku, memanfaatkan sisa waktu sebaik-baiknya. Aku sih senang-senang saja, karena aku sudah merelakan kepergiaannya, dan justru dia yang tak sanggup.
Ada yang berubah dengan matanya, matanya yang berbinar-binar kini meredup, meski cahayanya tidak hilang sama sekali, tapi mata itu dikelilingi sesuatu yang seperti kabut, berwarna keabu-abuan. Membuatku bertanya-tanya, ada apa dengan matanya? Apakah matanya sakit? Atau matanya pernah menghantam sesuatu? Apakah penglihatannya baik-baik saja? Dia menjawab dengan pertanyaan lagi “Kali ini ada apa lagi sama matanya bintang?”
“Bintang kayak kena katarak” jawabku jujur masih meniliti matanya yang berwarna keabu-abuan itu dengan bingung. Dia hanya tertawa mendengarku, dan meyakinkan aku bahwa penglihatannya baik-baik saja. Kemudian aku merasakan sesuatu, hatiku berbisik dan memberitahu bahwa pria di hadapanku ini sedang bersedih. Pria yang kucintai ini menyembunyikan kesedihan diluar jangkauan rabaanku, dia benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku, sesuatu yang menyakitkan dan menyedihkan, semakin kuselami semakin menjauh, entah sesedih apa dirinya, tapi aku memohon untuk tidak memadamkan cahaya di matanya yang indah itu.
Sampai tiba saat yang benar-benar terakhir, aku ingat malam itu malam lebaran haji. Dia menjemputku dari warnet tempat kerjaku. Aku tak mampu mengutarakannya. Karena aku benar-benar tidak peka saat itu, padahal ini hari terakhir kami. Hari terakhir aku melihatnya. Hari terakhir aku menyentuhnya. Hari terakhir aku memeluknya. Hari terakhir dia mengecup keningku dan berkata “Bintang sayang Haze”. Aku juga tak mengerti saat dia bercerita padaku bahwa dia menangis sepanjang jalan Balikpapan-Samarinda sambil mendengar lagu Seize The Day. Aku juga tak mengerti mengapa dia menangis ketika dia menggenggam tanganku dan mengecup bibirku, aku hanya memeluknya untuk meredakan tangisnya, tapi tangisannya semakin menjadi di dalam pelukanku, dan aku hanya mengecup ubun-ubunnya, aku benar-benar tak mengerti. Hari terakhir dimana dia menatapku lekat-lekat tanpa kata, hanya menatapku. Hari dimana aku merasakan rasa sayangnya yang membuncah tiba-tiba, sesuatu yang membuatnya selalu ingin memandangku dengan penuh kasih sayang. Aku benar-benar tidak paham tanda-tanda itu, aku sama sekali tidak peka. Atau sebenarnya aku tau tapi aku tidak mau tau, sehingga aku mengacuhkannya saja? aku tak mengerti saat itu. Dan itulah saat terakhirku mengantarnya di depan pintu warnet. Aku melihat keenggenan di matanya, tapi aku malah menyuruhnya pulang saja, aku mengkhawatirkan pekerjaannya yang terancam, karena aku sering menahan kepulangannya sehingga dia sering membolos demi aku yang selalu ingin bermanja-manja dengannya. Kali ini aku mengalah, aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tapi ternyata aku salah, seandainya aku tau ini pertemuan kami yang terakhir, seandainya aku lebih peka, tak akan kubiarkan dia pergi. Aku ingin memeluknya lebih erat lagi, aku ingin menyentuhnya lebih banyak lagi, aku ingin menikmati setiap lekuk wajahnya lebih lama lagi, dan memintanya untuk tak berhenti menciumku, ciumannya yang sedahsyat heroin itu, benar-benar membuatku kecanduan.

Desember 2009
Pagi yang cerah, yang disambut badai siang harinya. Ya hari itu hari dimana hidupku berhenti. Hari itu hari Jumat tanggal 4 Desember 2009. Aku tak sanggup menjabarkannya, karena aku selalu bersemangat setiap hari Jumat datang, aku selalu tak sabar menunggu sore tiba. Karena bintangku pasti datang. Tapi tidak Jumat ini, dan disinilah aku, berhenti di hari Jumat ini. Kehidupanku lenyap di hari Jumat ini. Aku masih menantinya di sini, aku masih menunggunya datang menjemputku. Aku berpura-pura aku baik-baik saja, aku tau dia menangis di sana, dan aku mencoba untuk menguatkannya dengan berkata tak apa-apa. Aku tidak menangis saat itu karena aku menolak untuk mempercayai apa yang terjadi. Aku harap aku bermimpi, entah bagian mana yang mimpi. Jika bersamanya itu merupakan mimpi, maka biarkan saja aku bermimpi dan cepatlah bunuh aku ketika aku bermimpi, dan biarkan aku terus bermimpi agar aku tak perlu menghadapi kenyataan bahwa aku sudah kehilangan jiwaku. Aku memang pengecut, aku takut, aku tak sanggup. Dan banyak hal-hal bodoh yang kulakukan, dan akhirnya aku benar-benar menghancurkan segalanya. Seandainya dia mengerti keadaanku yang labil tanpa pegangan seperti ini, aku gontai, jadi aku jatuh ke mana saja. Aku berantakan. Aku tak tau mana yang benar mana yang salah, kubiarkan egoku meraja lela, karena hatiku mati begitu saja. aku tak tau harus apa. Hanya egoku yang memerintah, logikakupun ikut mati. Hancur semua, dan semua karena aku. Aku yang menunjukkan sifat asliku, aku yang egois, aku yang keras kepala, aku yang bertindak sesukanya tanpa fikir panjang, spontan saja, yang berujung dengan tindakan-tindakan bodoh yang malah menghancurkanku. Seperti anak kecil yang benda kesayangannya dirampas, dan dilarang untuk menyentuh benda itu lagi. Maka anak kecil itu akan meraung-raung sejadi-jadinya dan melakukan tindakan apa saja agar benda itu bisa kembali padanya, hingga orang yang merampas benda itu kasihan padanya dan mengembalikan benda itu agar dia tersenyum kembali. Seperti itulah aku, aku benar-benar ingin dikasihani, agar dia kembali padaku. I’m running to the edge of the world I dunno if the world will end today (Marilyn Manson – Running to the edge of the world)

November 2010
Hari ini tanggal 9 November 2010. Sudah 1 tahun ya? Banyak sekali yang terjadi. Sudah 9 bulan Haze tak bergerak dari tempat Haze, tetap menunggu hari Jumat itu, dimana Bintang akan menjemput Haze. Haze bertanya-tanya akankah Bintang datang menjemput Haze? They say I cannot be this, I am jaded hiding from the day. In the dark I hide, feeling, failing, hating. Feel like I am fading, hating life (Marilyn Manson – Redeemer) I gave my soul to someone else. He must have known that. It was already sold, it was never about him, it was about hurt. I'm waiting. With the sound turned off. I'm waiting. Like a glass balloon. And I'm fading into the void and then I'm gone... (Marilyn Manson - They said that hell's not hot)
Seandainya saja 11 tahun yang lalu Haze tidak turun dari mobil dan memutuskan untuk pulang dan menunda kelas, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Seandainya Haze seperti anak-anak normal lainnya, yang tidak memupuk kebencian yang besar pada Bintang, mungkin Haze tidak akan bisa memiliki cinta setulus, sebesar dan sesakit ini. I love you so much, you must kill me now (Marilyn Manson – If I was your vampire) I want your pain to taste why you’re ashamed and I know you’re not just what you say to me. I want you wanting me. I want what I see in your eyes. You’re so sudden and sweet (Marilyn Manson – Evidence) you’re mine. I can’t stand on the thing that you do. No I ain’t lying.  I don’t care if you don’t want me. Cuz I’m yours anyhow (Marilyn Manson – I put spell on you)
Sama seperti Bintang yang merasa terwakili oleh Papa Roach, Haze terwakili Marilyn Manson, semua kata-katanya pas banget sama Haze. Yesterday I’m dirty. Wanted to be pretty. Now I know that I’m forever dirt. I’m the nobodies. Wanna be somebodies. I’m dead I know just who I am. (Marilyn Manson – the nobodies) I wanna live, I wanna love, but it’s long road out of hell (Marilyn Manson – Long road out of hell) Let’s jump upon the sharp swords and cut away our smiles. Without the treath of death, there’s no reason to live at all (Marilyn Manson – Reflecting God) when all of your wishes are granted, many of your dream will be destroyed (Marilyn Manson – Man that you fear)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hem............

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss