27.2.11

Bermain Drama

Dibuat Oleh Fadil Al Karsad S.Pd

Permainan drama atau yang juga populer dengan istilah pementasan drama pada hakikatnya sebuah karya, sama seperti sebuah film. Dengan demikian, bermain drama pun pada hakikatnya berkarya. Dalam dunia seni peran, baik film maupun drama, kata produksi lebih sering digunakan untuk menggantikan istilah karya tersebut.

A. Pihak-pihak yang Terlibat

Untuk memproduksi (memainkan) sebuah drama, idealnya memerlukan pihak-pihak berikut.

1. Pemimpin produksi (pinpro)Rata Penuh

Sesuai namannya, pemimpin produksi bertanggung jawab penuh terhadap produksi sebuah pentas drama. Dengan kata lain, sukses tidaknya sebuah produksi merupakan tanggung jawab pemimpin produksi. Untuk itu, seorang pemimpin produksi berhak untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah pentas drama. Seluruh kerabat kerja pun bekerja berdasarkan arahan atau persetujuan pemimpin produksi.

2. Sekretaris produksi
Seperti pada umumnya sekretaris, sekretaris produksi pun bertugas menangani kesekretarisan, seperti membuat surat-surat, membuat proposal (jika perlu), membuat selebaran atau dengan mendata segala keperluan tim produksi berkaitan dengan hal kesekretarisan kemudian memenuhinya.

Selain itu, sama seperti sekretaris lainnya, seorang sekretaris produksi pun bertanggung jawab dalam pembuatan laporan kegiatan produksi. Laporan tersebut berisikan berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan produksi yang telah dilakukan. Sehingga dari laporan kegiatan itulah kegiatan produksi selanjutnya bisa bercermin.

3. Bendahara produksi
Bendahara bertanggung jawab menentukan dan mengelola dan membuat laporan anggaran produksi. Untuk lebih detilnya, bendahara bisa mendaftarkan berbagai keperluan keuangan dari tiap seksi.

4. Seksi humas (hubungan masyarakat)
Seksi humas bertugas sebagai mediator (penghubung) antara tim produksi dengan pihak lain, seperti pengelola tempat pentas, sponsor, undangan dan sebagainya.

5. Seksi dokumentasi
Seksi dokumentasi bertanggung jawab untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan produksi, dalam bentuk foto atau pun video. Dokumentasi tersebut bukan hanya dijadikan sebagai bukti sebuah kegiatan, tetapi lebih untuk dijadikan bahan evaluasi yang bisa menjadi pembelajaran pada masa selanjutnya.

6. Seksi konsumsi
Seksi konsumsi berkewajiban memperkirakan dan menyiapkan konsumsi yang diperlukan selama melakukan produksi dengan cara berkoordinasi dengan kerabat kerja yang lain di bawah tanggung jawab pemimpin produksi.

7. Stage manager atau manajer panggung
Manajer panggung bertanggung jawab atas segala persiapan dan pelaksanaan pentas, mulai dari mengatur jadwal berlatih, mengonfirmasi seluruh anggota kru (kerabat kerja) panggung, mendata dan mengatur segala keperluan pementasan. Dengan demikian, seluruh anggota kru (kerabat kerja) panggung bekerja di bawah koordinasi manajer panggung dan mempertanggungjawabkan kerjanya kepada manajer panggung.

8. Sutradara
Sutradara bertanggung jawab penuh atas permainan drama di atas panggung. Sutradaralah yang mengatur gerak pemain, lampu, busana, dan segala sesuatu yang berkaiatan permainan drama di atas panggung. Sehingga, baik buruk sebuah pentas drama merupakan tanggung jawab sutradara.

9. Asisten sutradara
Seperti namanya, asisten sutradara bertugas membantu sutradara dalam mengatur permainan drama di atas panggung. Tugas tersebut misalnya memimpin pemanasan tubuh sebelum berlatih, melatih pemain secara perorangan pada saat sutradara memimpin proses berlatih secara keseluruhan, atau mewakili sutradara jika sutradara berhalangan untuk berlatih dan sebagainya.

10. Pemain
Tugas pemain sangat jelas, yaitu memainkan peran yang diembannya berdasarkan arahan sutradara.

11. Pencatat adegan
Tugas pencatat adegan yaitu mencatat perkembangan latihan, berupa arah pergerakan pemain di atas panggung, pengaturan terang redupnya lampu yang disesuaikan dengan permainan, perubahan naskah yang memang bisa berubah berdasarkan arahan sutradara dan sebagainya.

12. Penata panggung
Tanggung jawab penata panggung yaitu menyiapkan dan menata berbagai perlengkapan panggung yang disesuaikan dengan arahan sutradara.

13. Penata busana
Tanggung jawab penata busana yaitu menyiapkan dan menata berbagai busana yang diperlukan pemain berdasarkan arahan sutradara.

14. Penata rias
Tanggung jawab penata rias yaitu menyiapkan peralatan rias dan menata rias wajah pemain berdasarkan arahan sutradara.

15. Penata lampu
Tanggung jawab penata lampu yaitu menyiapkan peralatan lampu panggung dan menata lampu tersebut di panggung berdasarkan arahan sutradara.

16. Penata musik
Tanggung jawab penata musik yaitu menyiapkan peralatan musik dan menata musik permaian pemain berdasarkan arahan sutradara.

B. Teknik Bermain Drama

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai teknik bermain drama, kita harus menetapkan tujuan dalam memahami teknik bermain drama terlebih dahulu. Jika untuk menjadi seniman drama, diperlukan teknik khusus dan proses yang lama. Namun jika hanya untuk membekali diri supaya bisa bermain drama tingkat dasar, berikut penjelasannya.
Untuk bisa bermain drama, seorang pemain harus memerhatikan hal-hal berikut.

1. Konsentrasi
Sebelum bermain atau pun berlatih drama, kita harus bisa memusatkan perhatian kita dulu supaya prosesnya bisa berjalan dengan maksimal. Dalam drama, berkonsentrasi biasanya dilakukan dengan memejamkan mata dan terus berusaha untuk menenangkan diri. Hal tersebut bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, atau pun berbaring. Namun pada umumnya, konsentrasi dilakukan sambil duduk bersila, meluruskan penggung, dan meletakkan pergelangan tangan di ujung lutut.

Bukan hanya diperlukan untuk memulai berlatih drama, konsentrasi juga diperlukan selama berlatih atau pun bermain drama langsung di atas panggung. Untuk itu, kita perlu melatih diri kita supaya bisa berkonsentrasi kapan pun. Hal tersebut bisa dilakukan dengan bermain apa saja yang melatih konsentrasi, baik secara individu atau pun berkelompok, baik dalam forum berlatih atau pun di luar lingkaran jadwal berlatih.

2. Pernapasan
Pernapasan memang terkesan sepele karena pada dasarnya tiap manusia yang hidup pasti melakukan pernapasan. Namun, pernapasan dalam hal ini memiliki jenis sesuai dengan keperluannya. Untuk tingkat dasar, paling tidak kita harus bisa membedakan dan menerapkan dua jenis pernapasan, yaitu pernapasan perut dan pernapasan dada.

a. Pernapasan perut
Pernapasan jenis ini merupakan modal dasar seseorang dalam bermain drama. Sesuai namanya, pernapasan ini menggunakan perut untuk menyimpan udara yang dihirup dari hidung atau pun mulut, seperti pada saat kita sedang tidur. Indikasinya, jika kita menarik napas, perut kita akan mengembang. Sebaliknya, jika kita mengeluarkan (menghembuskan) napas, perut kita yang tadinya mengembang akan mengempis.

Ada pun indikasi lain dalam penerapan pernapasan perut yaitu dengan melihat bahu. Jika ketika kita bisa menerapkan pernapasan perut, bahu kita tidak akan bergerak-gerak naik turun. Sebaliknya, jika bahu masih bergerak-gerak naik turun, kita masih belum bisa menerapkan pernapasan perut.

Fungsi pernapasan ini yaitu supaya kita bisa mengeluarkan vokal dengan maksimal tanpa menimbulkan rasa sakit karena tenaga hentakan bersumber dari perut kita. Namun jika kita belum bisa menerapkan pernapasan ini, cara yang biasanya digunakan untuk melatihnya yaitu dengan berbaring seperti sedang tidur karena pada umumnya jika kita tidur, kita menerapkan pernapasan perut. Setelah kita berbaring seperti sedang tidur, letakkan tangan kita di atas perut kita supaya kita dapat merasakan indikasi bisa tidaknya kita menerapkan pernapasan perut tersebut, seperti pada uraian di atas.

b. Pernapasan dada
Pernapasan ini memiliki indikasi pergerakan bahu. Jika ketika kita bernapas bahu kita bergerak naik turun, itulah tandanya kita sedang menggunakan teknik pernapasan dada. Penggunaan pernapasan dada dalam bermain drama memiliki fungsi tersendiri. Misal, untuk mengekspresikan orang marah, terengah-engah, dan suara orang tua yang biasanya serak. Sedangkan untuk berdialog biasa, sebaiknya kita tetap menggunakan pernapasan perut karena pernapasan dada bisa mengakibatkan suara serak, dada terasa sesak, bahkan sakit tenggorokan.

Untuk itu, ada hal yang perlu diperhatikan ketika kita sedang berperan sebagai orang yang sedang marah atau pun terengah-engah. Penggunaan pernapasan tersebut hanya untuk menunjukkan gestur (ekspresi tubuh), yaitu naik turunnya bahu, bukan untuk mengeluarkan vokal dan melakukan dialog.

3. Vokal
Dilihat dari vokal, bermain drama sangat berbeda dengan film yang menggunakan alat pengeras suara. Dalam drama, seorang pemain drama dituntut untuk bisa mengatur vokalnya supaya dialognya bisa terdengar dengan jelas oleh penonton dalam sebuah gedung atau panggung. Namun demikian, bukan berarti seorang pemain drama harus berteriak supaya suaranya bisa terdengar penonton.

Untuk itu, dalam mengatur vokal, seorang pemain harus memerhatikan tiga hal berikut.
a. Intensitas (kekuatan)
b. Intonasi (nada)
c. Artikulasi (kejelasan)

Ada pun teknik melatih vokal yaitu sebagai berikut. Pertama, kita harus mengetahui bahwa vokal memiliki hubungan yang sangat erat dengan penerapan pernapasan. Seperti pada penerapan pernapasan, vokal pun dibagi menjadi dua, yaitu vokal perut dan vokal dada. Disebut vokal perut karena menggunakan teknik pernapasan perut. Sebaliknya, disebut vokal dada karena menggunakan teknik pernapasan dada.

Untuk melatih vokal perut, tahapan awalnya sama seperti pernapasan perut, yaitu dengan menarik napas dari hidung sampai perut kita mengembang, kemudian menghembuskannya melalui mulut, namun dengan disertai suara atau vokal. Sebagai dasar, keluarkanlah vokal “a” secara perlahan sampai udara yang kita hembuskan berhenti dengan sendirinya. Lakukan secara berulang-ulang, dimulai dengan intensitas vokal yang rendah sampai yang tinggi, dari yang pendek sampai yang panjang, dari hanya vokal “a” sampai keempat vokal yang lainnya (i u e o).

4. Mimik
Mimik atau ekspresi wajah juga merupakan modal utama dalam bermain drama. Peran apa pun dalam bermain drama, pasti memerlukan mimik yang spesifik, seperti sedih, marah, senang, takut, bingung, sombong, mengantuk, dan sebagainya.

Untuk melatih mimik, kita bisa melakukannya sambil bercermin atau meminta teman untuk menilai. Kita bisa memeragakan berbagai bentuk ekspresi wajah. Sebagai tahap awal, lakukan senam wajah, yaitu dengan menggerak-gerakkan seluruh bagian wajah, mulai dahi, pelipis, alis, bola mata, pipi, rahang, hidung, bibir, dagu dan sebagainya.

Jika seseorang terbiasa melakukan senam wajah, terutama setiap bangun tidur, biasanya akan mudah memeragakan berbagai macam ekspresi wajah. Untuk itu, lakukanlah senam wajah sesering mungkin, baik tanpa cermin atau pun di depan cermin, baik sendirian atau pun berkelompok!

5. Gestur
Gestur yaitu gerak atau ekspresi seluruh anggota tubuh, mulai dari kepala sampai kaki. Dalam permainan darama, gestur pun sangat menunjang kemaksimalan penampilan. Tentu saja, setiap gestur tetap harus disesiakan dengan peran yang ada dalam cerita.

Untuk melatih gestur, kita bisa melakukan gerakan pemanasan, pendinginan, atau bahkan tarian. Kita juga bisa melatih dari gerakan kecil sampai besar. Misal dimulai dari menggerakkan kepala, bahu, lengan, jari, badan, tangan, pinggung, kaki, berpindah tempat dan sebagainya.

6. Imajinasi
Dari tiga hal yang tersebut di atas, yaitu vokal, mimik, dan gestur, tidak akan maksimal kita lakukan jika imajinasi kita tumpul atau tidak bermain. Imajinasi merupakan “gerak” yang kita lakukan dalam khayalan, yang kemudian kita wujudkan dalam gerak nyata seperti yang kita inginkan. Semakin bagus imajinasi seseorang, semakin bagus (indah dan bervariatif) pula gerak yang bisa dimunculkan. Namun demikian, kita tetap harus berusaha (berani) menampilkan gerakan apa pun yang ada dalam imajinasi kita.

Jika berkelompok, teknik yang biasa digunakan untuk mengasah imajinasi yaitu dengan mengikuti arahan pemandu. Misal, pemandu mengarahkan kita untuk berimajinasi menjadi pemulung. Setelah indera pendengaran kita menangkap arahan tersebut, otak kita berimajinasi dan memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk memeragakan seorang pemulung. Dari itulah, vokal, mimik, dan gestur kita akan mencerminkan pemulung.

7. Improvisasi
Improvisasi memiliki cakupan makna memperbaiki, mengembangkan, dan melakukan tanpa panduan. Dalam hal bermain drama, improvisasi dengan cakupan makna seperti itu jelas sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan drama merupakan seni peran yang langsung dimainkan di depan penonton. Jika ketika bermain drama di atas panggung kita lupa, kita harus memperbaikinya dengan melakukan adegan apa saja untuk mengembalikan cerita sesuai inti naskah. Demikian juga jika lawan main kita terlihat lupa naskah, kita pun harus bisa berimprovisasi untuk menyesuaikannya.

Kecelakaan pun bisa terjadi saat kita sedang bermain drama di atas panggung. Jika seperti itu, sebagai pemain, kita pun dituntut untuk bisa berimprovisasi supaya cerita tetap bisa dilanjutkan tanpa ada potongan.

Sama seperti hal lain di atas, improvisasi pun bisa dilatih. Para pemain drama biasanya melakukannya dengan memainkan adegan tanpa naskah atau pun persiapan matang sebelumnya. Hal tersebut bisa dilakukan secara berkelompok atau pun individu. Jika teknik seperti ini sering dilakukan, lambat laun daya improvisasi kita pun akan bagus. Bahkan, kita pun akan bisa berimprovisasi dalam berbagai hal yang nyata, bukan hanya dalam drama.

8. Blocking
Istilah ini memang sudah mendarah daging dalam permainan drama walaupun bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu menutupi. Dalam hal ini, konteks menutupi yaitu menutupi anggota tubuh sendiri atau pun pemain lain. Misal, kita menunjuk sesuatu di arah kanan dengan tangan kiri sehingga tangan kiri kita melintang di depan dada. Bisa juga kita menghadap ke samping tanpa alasan kuat sehingga penonton tidak bisa melihat ekspresi (gestur) kita dari depan. Atau bahkan kita membelakangi penonton tanpa alasan yang jelas sehingga penonton pun tidak bisa melihat ekspresi kita. Untuk itu, kita pun dituntut jeli dalam hal ini.

9. Movement
Sama seperti di atas, istilah ini pun sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, yaitu perpindahan. Perpindahan dalam hal ini yaitu pergerakan pemain di atas panggung. Perpindahan diperlukan untuk menghindari kemonotonan penampilan permainan di atas panggung. Namun demikian, kita tetap harus memerhatikan hal-hal di atas supaya perpindahan kita tidak menimbulkan masalah yang baru.

10. Keseimbangan panggung
Semua batasan yang disampaikan di atas demi kemaksimalan permainan drama di atas panggung. Demikian juga dengan batasan yang ini. Keseimbangan panggung dimaksudkan supaya komposisi panggung terlihat seimbang sehingga terasa enak dilihat penonton. Misalnya penempatan benda-benda pementasan (properti) atau pun penempatan pemain di atas panggung.

C. Tahap Berlatih Drama

Tidak ada rumus baku mengenai tahapan berlatih drama. Namun, pada umumnya, jika seseorang ingin berlatih drama untuk yang pertama kalinya, harus memulainya dari tahap kecil terlebih dahulu, seperti pernapasan dan vokal. Untuk menguasai penerapan pernapasan, biasanya diperlukan waktu latihan yang tidak sebentar. Namun demikian, proses ini bisa ditempuh tidak hanya pada saat berlatih secara berkelompok. Setelah kita mengetahui teorinya, kita bisa mematangkan penguasaannya kapan pun dan di mana pun.

Setelah kesepuluh teori di atas dikuasai dalam bentuk praktik, baru kemudian mencoba untuk memproduksi pementasan. Namun demikian, segala sesuatunya kembali kepada kemampuan masing-masing. Jika merasa mampu tanpa menerapkan teori di atas, bisa saja melakukan produksi setelah merasa yakin. Bahkan bila perlu, kita bisa mengeksplorasi diri kita dengan berbagai metode baru tanpa harus terpaku pada panduan di atas.

Ada pun mengenai intensitas waktu dalam berlatih, jika ingin cepat merasakan hasilnya, tentu saja intensitasnya harus tinggi. Misal, dalam satu pekan melakukan proses berlatih sebanyak dua dampai tiga kali.
SELAMAT MENCOBA!


Source
http://akhirnyafadilpunyablog.blogspot.com/2010/10/bermain-drama.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss