23.2.11

IN THE NAME OF LOVE

Semburat matahari sore menerobos celah-celah di antara dedaunan, Drake bersiul-siul membawa hasil buruannya. Seekor rusa berhasil dia dapat, ayahnya pasti senang, daging rusa muda adalah kesukaan ayahnya. Drake membersihkan perut rusa dan mengulitinya sambil menunggu ayahnya pulang. Terbersit di pikirannya untuk mengajak kekasihnya untuk makan malam bersama mereka. Sayup-sayup dia mendengar suara ayahnya menyebut namanya diantara kesunyian hutan. Drake menghentikan pekerjaannya. Mendengarkan baik-baik suara-suara yang timbul diantara kesunyian. Drake membersihkan tangannya, dia yakin tadi dia mendengar suara ayahnya memanggilnya. Drake meraih shotgunnya, dan membuka pintu rumahnya. Dan disanalah dia melihat ayahnya terkapar bersimbah darah 15 meter dari rumahnya.
“Heeeeiizzzz….. wake up!!! Your teacher’s here..”
“Uh… mom.. I don’t need her..” Haze menutup kepalanya dengan bantal.
“WAKE UP!!!” teriak ibunya sambil menarik bantalnya.
“Uh… mom… don’t shout at me, I’m not deaf..” Haze menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan “Kenapa aku ga boleh sekolah seperti anak-anak normal??? I want a normal life…”
“You know who you are Haze.. kamu tau keluarga kita seperti apa, mama ga bisa bayangin kalo kamu diluar pengawasan mama” jawab ibunya sembari membuka lemari pakaian Haze dan memilihkan baju yang harus dipakainya.
“I’m a princess but.. mammaaa..” Haze masih merengek.
“Okay.. Haizey, get up lazy princess.. take a bath, and see your teacher now!” perintah sang ibu tanpa menggubris rengekan putrinya.
Ibunya meraih salah satu handuk yang tersusun rapi di lemari pakaian dan menyodorkannya ke arah Haze. Namun ia sama sekali tak bergeming dari tempat tidurnya.
“I don’t need..”
“If I said now, it means NOW!!! Got it young lady?” kata ibunya tegas.
“Okaaay.. alriiiite.. mooom..” jawab Haze dengan ogah-ogahan.
Haze menyeret kakinya dengan malas ke kamar mandi, “Hhhh… my life sucks!” keluhnya.
“I’m still here, dear.. you just too loud” sahut ibunya.
“I want a normal school!!” Haze berteriak dan menghentakkan kakinya lalu membanting pintu kamar mandi.

Haze menuruni tangga, melompat-lompat.. membuat kegaduhan, mencari perhatian ayahnya yang sedang berbicara di telpon. Gadis kecil seumur dia memang senang mencari masalah.
“Haizey… what are you doing?” tanya ayahnya dari bawah tangga, sambil mengerutkan kening kemudian menutup telponnya.
“Jump”
“You can broke your neck, stop it, sweetheart” kata ayahnya sambil menaiki tangga menghampiri putri semata wayangnya itu
“I won’t!!!” Haze membantah, dan terus saja melompat-melompat menuruni tangga.
“Come here my little princess..” sang ayah menangkapnya dalam gendongan, Haze tertawa manja dan memeluk ayahnya.

*****

Haze terbangun dari tidurnya, suara alarm memecah kesunyian kamarnya yang lembab. Dia memegangi kepalanya yang sakit, kemudian berpikir sejenak, kelembaban kamar seperti inilah yang membuatnya bermimpi buruk. Haze menarik tirai jendelanya membiarkan matahari sore memasuki kamarnya, membuka jendelanya agar udara segar mengganti kelembaban yang membawa kenangan buruk.
Sudah jam 3 sore. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan menenggak beberapa butir aspirin. Haze memeriksa notenya, hari ini dia ada janji dengan Ibu Tania, dia akan menjaga anaknya dari jam 4 sore sampai jam 8 malam. Setelah itu Haze bekerja di bar sampai jam 5 pagi.
Haze bergegas ke kamar mandi, setelah itu mempersiapkan segala kebutuhannya, kemudian memandangi isi tasnya lalu memasukkan phyton ke dalam tasnya, untuk berjaga-jaga. Ibunya berpesan, untuk selalu berhati-hati, musuh ada dimana saja.

*****

“Mom… what happened?” Haze menghampiri ibunya dengan tatapan bingung, kemudian melihat ayahnya yang tergeletak di pelukan ibunya “Daddy… so much blood come out from his body, Is he okay??” tanya Haze khawatir.
“Haze.. pergilah Haze.. pergi sejauh mungkin.. Jack dan beberapa pengawal ayahmu akan bersamamu, mereka akan selalu melindungimu” jawab ibunya sambil membebat perut ayahnya yang tak berhenti mengucurkan darah.
“What about you?” tanya Haze sambil membantu ibunya mengeluarkan peluru dari lengan ayahnya.
“I’m here, sweetheart..” ibunya berkata, kemudian merebut pinset dari tangan Haze.
“But mom.. daddy and uncle Sam need help, u can’t do it alone” Haze berkata dengan nada memohon, dia tau itu akan sia-sia, ibunya sangat keras dengan keputusannya.
“I’m here!” jawab ibunya tegas dengan tatapan dingin.
“But mom..”
“Jack, bawa Haze pergi!”
“Mom.. come on.. TAKE YOUR HANDS OFF, JACK!!”
“Bawa dia pergi, Jack! Sekarang!!”
Jack menyeret Haze keluar dari rumahnya, meski Haze terus meronta-meronta. Namun Haze bukan tandingan Jack, tetap saja Jack mampu melumpuhkan perlawanan Haze. Tepat saat Jack mengikatkan sabuk pengaman ke tubuh mungil Haze, rumah keluarga Schwarzwald meledak. Haze terbelalak dan semakin histeris. Jack memegangi Haze yang hendak melepaskan sabuk pengamannya dan ingin terjun dari helikopter yang mulai lepas landas. Haze berteriak-teriak histeris sampai akhirnya Claire harus menyuntikkan obat penenang di lengannya. Dan Hazepun tertidur, meski masih meninggalkan isakan.

*****

Haze tiba di depan pintu rumah Ibu Tania. Meski matahari sore yang menyentuh rambut coklatnya bersinar hangat, tapi tetap saja tak mengubah kesan dingin yang terpancar dari matanya yang berwarna senada dengan rambutnya. Haze memencet bel rumah Ibu Tania. Hanya dalam hitungan detik, Ibu Tania sudah membukakan pintu untuknya.
“Selamat sore, Bu..” sapa Haze sopan.
“Sore, Haze. Kamu selalu tepat waktu seperti biasa” jawab ibu Tania, sambil tersenyum hangat dan mempersilahkannya masuk. Haze membalasnya dengan senyum tipis yang sopan.
“Haze.. nanti kalau Dafa sudah bangun, bawa saja dia bermain di taman, sepertinya saya sering melihat banyak baby sitter seumur kamu berjalan-jalan di taman. Setidaknya kamu akan mempunyai teman di kota ini.”
“Ibu perhatian sekali, terima kasih” jawab Haze halus.
Ibu Tania tersenyum “Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu ya, hati-hati jika meninggalkan rumah” pesan ibu Tania. Haze mengangguk mengerti.
Haze beranjak ke kamar Dafa, memperhatikan bayi mungil yang tertidur ini. Kedamaian di wajah Dafa tak dapat merasuk di hati Haze.

*****

“Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday dear Haizey… happy birthday to you.. yeeeee make a wish, pumpkin..” kata ibunya.
“Umm… Dear God.. I want a big gift from mamma and daddy, oh.. and delicious pasta” Haze berdoa. Tentu saja orang sekitarnya tertawa, umur Haze baru 4 tahun. Jadi hanya hadiah yang besar dan pasta kesukaannya saja yang dia inginkan saat itu. Dia tak menginginkan apapun karena dia sudah memiliki semuanya. Bahkan duniapun ada dalam genggaman keluarganya.
Jack menghampiri Haze kecil, dan memberi hadiah padanya.
“What is it, Jacky?”
“Guess”
Haze mengocok kotak itu, mengerutkan keningnya dan menggeleng, bahwa dia tidak dapat menebak apa isinya.
“Take off the top of the box, my lady”
Kemudian Haze membuka kotaknya, dan isinya adalah sebuah bola kaca berisi air yang di dalamnya ada replika dirinya yang sedang menangkap kupu-kupu di taman bunga. Dan jika bola itu digoyang-goyang, maka butiran putih yang menyerupai salju akan mengambang dan menutupi semua benda yang ada di dalamnya, kemudian salju itu turun perlahan-lahan.
“What is it, mom?” Haze bertanya pada ibunya.
“It is snow” jawab ibunya
“I never see it before..” kata Haze yang masih menggoyang-goyangkan bola kacanya dengan rasa penasaran.
“Because we live in tropical country, Haze” jawab ibunya.
Haze memandangi ibunya penuh dengan tanda tanya, tentu saja dia tidak mengerti.
Ibunya menatapnya dengan ramah dan penuh kasih sayang “Someday you will see it”
“Promise?” Haze bertanya dengan nada gembira.
“Cross my heart” jawab ibunya sambil mengecup kening anaknya.

*****

Dafa sudah bangun, Haze membawanya berjalan-jalan mengelilingi taman, menghirup udara segar dari pepohonan. Kota ini begitu ramah padanya, orang-orangnya, lingkungannya, cuacanya, namun Haze tetap kaku, bahkan udara segar dari pepohonan yang ramahpun, tak dapat menyejukkan hatinya.
Haze duduk di kursi taman, karena Dafa sudah tertidur lagi dalam keretanya. Haze mengeluarkan buku bacaannya, baru saja hendak membaca, seorang pria mendatanginya.
“Mau es krim?” sapanya.
Haze memandangi pria itu, kemudian menggeleng pelan, dan kembali pada buku bacaannya.
“Ayolah, jangan sombong. Aku sudah membelikanmu satu, aku harap kamu suka rasa coklat” pria itu duduk di samping Haze.
Haze menoleh lagi, mengerutkan keningnya, heran.
“Ga beracun koq, suer!!” katanya sambil menyodorkan es krim coklat yang hampir meleleh kepada Haze.
Haze menutup bukunya, dan mengambil es krim itu. Pria itu tersenyum berseri-seri. Haze memandangi es krim itu dengan teliti. Jack mengawasi dari kejauhan, sambil menggeleng ke arah Haze. Kemudian dengan gaya yang anggun, Haze menjatuhkan es krim itu agar terlihat seperti sebuah ketidaksengajaan. Sedikit mengotori celana jinsnya, tapi tak apa. Sepertinya pria itu percaya, itu adalah kecelakaan.
“Maaf..” kata Haze, sambil membersihkan celana jinsnya yang terkena noda es krim.
“Aku beliin lagi ya” tawar pria itu.
“Terima kasih tapi aku mau jalan-jalan lagi kesana” jawab Haze sambil menunjuk kerumunan anak-anak kecil yang sedang bermain bersama para baby sitter mereka.
“Aku temenin ya” tawar pria itu lagi masih dengan nada yang riang.
Haze diam saja. Pria ini tak mau menyerah juga. Dia terus saja berjalan di sampingnya meski Haze mengacuhkannya.
“Haze.. aku mencarimu selama 3 tahun terakhir.”
Haze tetap saja diam. Kemudian memandangi mata pria itu. Haze memperhatikan cincin yang dipakai di jari manisnya, kemudian melihat kalung dengan bandul berbentuk bintang berwarna hitam yang menggantung di leher pria itu.

*****

Haze berlari-lari di taman. Dia sedang bermain petak umpet dengan para pelayannya. Haze melihat celah diantara semak-semak di tamannya. Haze menelusuri jalan setapak yang terdapat di balik semak-semak itu, jalan setapak ini menuju hutan. Haze terus saja berjalan masuk ke dalam hutan dengan rasa penasaran dan akhirnya dia tersesat. Haze menoleh ke kiri dan ke kanan, dia lupa dia datang dari arah mana, dia berputar-putar, kemudian dia hanya bisa menangis, karena hari sudah hampir malam dan dia tidak tau dimana dia berada saat ini. Tiba-tiba dia berhenti menangis, dia mendengar suara ranting yang patah karena terinjak. Haze ketakutan, tapi tak mampu beranjak, karena dia tak tau kemana harus bersembunyi. Haze menutup matanya dengan tangan gemetar.
“Ayah.. ada orang disitu” terdengar suara anak laki-laki di balik semak-semak.
Mendengar itu, Haze langsung membuka matanya, mengharap pertolongan.
“Heeeelllpp….” Haze menjerit.
Kemudian suara langkah-langkah kaki itu semakin dekat. Haze melihat seorang pria separuh baya, membawa lentera dan menopang senapan berburu berlari mendekatinya. Kemudian ada seorang bocah laki-laki yang berlari-lari kecil membawa senter kecil dan pisau kecil menyusul di belakangnya.
Pria itu kemudian menggendong Haze, dan membawanya ke gubuk di tengah hutan. Bocah laki-laki itu terus saja berlari-lari kecil mengikuti di belakangnya. Pria itu meletakkan Haze di atas dipan yang terbuat dari anyaman rotan. Haze meringkuk dan memeluk lututnya sendiri, menggoyang-goyangkan tubuhnya yang masih gemetar.
“Ayah, dia siapa?” kata bocah itu.
“Ayah tidak tau. Sepertinya dia kebingungan dan ketakutan. Kau siapkan saja bubur yang sudah kau masak tadi. Kita tidak jadi berburu malam ini, cuacanya mendung. Buatkan teh hangat untuk tamu kita” kata pria berbadan besar ini dengan nada yang ramah.
“Baik ayah”
Tak lama kemudian, bocah itu sudah keluar lagi dari dalam rumah, memberi tahu ayahnya bahwa makan malam sudah siap. Ayahnya masuk ke dalam, meninggalkan Haze yang masih meringkuk di sudut dipan. Bocah itu mendekati Haze dan menyodorkan teh hangat padanya.
“Ini minumlah.. untuk menghangatkan tubuhmu, sepertinya kamu kedinginan”
Haze memandangi bocah itu dengan mata ketakutan, dia meraih gelas dengan tangan yang masih bergetar, namun bocah itu tetap memegangi gelasnya, dan menyambut tangan Haze yang gemetaran. Bocah itu tersenyum hangat, begitu menenangkan, hingga tangan Haze berhenti bergetar dan mampu memegang gelas itu sendiri. Haze meminum teh hangat itu perlahan-lahan.
“Kamu lapar?” tanyanya.
Haze mengangguk.
“Ayo masuk, kita makan sama-sama Ayah” ajaknya.
Haze masih dalam posisinya, dia hanya melirik sekilas ke dalam, tak beranjak dari tempat duduknya.
“Gak apa-apa, Ayahku baik koq, yuk masuk” ajaknya sekali lagi, Haze melirik dengan enggan. Kemudian bocah itu tersenyum lagi, dan menarik tangan Haze dengan lembut, mengajaknya masuk ke dalam untuk makan bersama.

*****

“Haze..” Drake memanggilnya “mengapa tiba-tiba kamu menghilang?”
Heiz menggeleng lemah.. “maaf..” ucapnya lirih.
Drake memandangnya dengan tatapan putus asa. Kemudian dia menghela nafas dan tersenyum berseri-seri lagi “Ayo kita jalan-jalan lagi” ajaknya. Jack memberi kode, agar Haze menjauh dan segera kembali ke rumah Ibu Tania.
“Maaf… sepertinya aku harus kembali, aku harus memberi Dafa makan” tolak Haze dengan halus.
“Aku antar ya” tawar Drake.
Sekali lagi Haze diam saja, mendorong kereta Dafa dengan lembut, agar Dafa tidak terbangun. Sesampai di depan rumah Ibu Tania, Drake menggenggam tangan Haze dan berkata “Aku yakin kamu punya alasan kuat, kau pergi bukan karena ingin melupakanku kan?”
Haze tak menjawab, dia melepaskan genggaman tangan Drake dan membuka pintu membawa Dafa masuk, dan berlalu begitu saja dari hadapan Drake.
“I’ll wait for your explanation, Haizey!” Drake berteriak.
Dafa menggeliat di keretanya, kemudian membuka matanya. Haze tersenyum dan mengangkat Dafa keluar dari keretanya, bayi berumur 6 bulan ini juga tersenyum memamerkan gusinya.
“Ouw… sweety Dafa…” kata Haze sambil memeluknya, kemudian membawa ke kamarnya. Meletakkan Dafa dalam box bermainnya. Namun Dafa menjerit, dia tak ingin Haze meninggalkannya.
“Just a minute, okay?? I have to prepare your meal, it’s time for you to have dinner, little cute boy” Haze mengusap kepala Dafa yang tertawa-tawa, kemudian meninggalkannya ke dapur. Haze mengambil biskuit bayi kemudian meletakkannya di mangkuk, menghangatkan susu dan menuangkannya ke dalam mangkuk biskuit. Haze menoleh tiba-tiba. Dia merasa seseorang sedang mengawasinya. Haze mengambil phyton dari tasnya, berjalan perlahan-lahan keluar dari pintu dapur menuju halaman belakang.
“Upstair, Jack” bisik Haze kepada Jack dari radio yang di selipkan di gerahamnya.
“Copy” Jack menjawab dan bergegas naik ke atas gedung yang ada di seberang jalan rumah Ibu Tania.
Haze terus menelusuri halaman belakang, bersembunyi di semak-semak.
“Clear” lapor Jack.
Haze menghela nafas, kemudian berdiri, keluar dari semak-semak.
“Watch your back!” suara berat di belakangnya menodongkan senapannya tepat di kepala Haze, Haze menjatuhkan phytonnya. Kemudian terdengar desingan peluru. Haze menutup mata, dan menghela nafas lega. Dia tau Jack yang menembak pria itu dengan snippernya dari atas gedung.
“Nice shot, Jack. Thanks.” kata Haze tanpa menoleh sedikitpun pada mayat yang beberapa detik lalu menodong kepalanya.
“Clean up yourself, lady” Jack berkata sambil menuruni gedung, bergegas ke halaman belakang rumah Ibu Tania dan membersihkan mayat dan sisa-sisa darah yang berceceran.
Haze kembali ke dapur, membersihkan percikan darah dari rambut dan pakaiannya. Mencuci tangan dan mukanya dengan sabun, kemudian mengambil mangkuk Dafa.
“Hello there… do you miss me, little Dafa?? Haha… come here..” Haze menggendong Dafa keluar dari box bermainnya, dan mendudukannya di kursi bayi, menyuapinya dengan lembut. Setelah selesai memberi Dafa makan, Haze menepuk-nepuk punggung Dafa dengan lembut, setelah itu dia membersihkan pipi Dafa yang dikotori buburnya, mengganti pakaian Dafa, kemudian menimangnya hingga Dafa tertidur.
Haze duduk di samping tempat tidur Dafa, membaca bukunya sambil menunggu Ibu Tania pulang. Haze lelah, kemudian tertidur di kursi.

*****

Haze terengah-engah, dia terus saja berlari dalam gelap tanpa tau tujuannya. Tiba-tiba Drake muncul di hadapannya, memasangkan cincin di jari manisnya, mengecup bibirnya. Kemudian dia melihat rumahnya meledak, rata oleh tanah bersama seluruh keluarganya.
Haze terbangun, berkeringat dingin dan sebutir air mata jatuh menetes dari matanya. Haze menyekanya perlahan. Jam 8 kurang 15 menit. Dafa masih tertidur, dan Haze mendengar suara mobil Ibu Tania mendekat. Haze ke kamar mandi, memandangi pantulan wajahnya yang berantakan. Haze membasuh wajahnya, dan menyisir rambutnya, merapikan blousenya yang kusut, kemudian turun ke dapur mengambil tasnya tepat saat Ibu Tania membuka pintu depan. Haze menyambutnya dengan senyum tipis.
“Sudah mau pulang, Haze?” tanya Ibu Tania. Haze mengangguk. “Makanlah dulu bersama kami”
Haze menggeleng “Terima kasih Bu, saya makan diluar saja” tolak Haze dengan sopan
“Baiklah “ Ibu Tania mengangguk-angguk mengerti “Dafa baik?” lanjutnya
Haze mengangguk “Dafa sudah tidur”
“Terima kasih banyak Haze, kau benar-benar membantuku menjaga Dafa. Ini uang kamu” Ibu Tania menyodorkan amplop padanya.
“Terima kasih” jawab Haze kemudian keluar dari rumah itu.
Haze bergegas kembali ke apartemennya yang sempit dan lembab, mengganti pakaian, meraih mantel tebal lalu berjalan keluar menembus udara dingin menuju kafe untuk minum secangkir kopi panas. Masih ada waktu 2 jam sebelum dia bekerja. Haze mengambil tempat duduk yang paling pojok dekat jendela, menghirup aroma kopinya dalam-dalam, dan..
“There you are..”
Haze tak bergeming, masih menikmati kopinya. Pria itu duduk di depannya. Hujan diluar.

*****

“Where are we, Drake?” Haze membuka penutup matanya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya, matanya belum terbiasa menangkap cahaya. Drake menutup matanya selama perjalanan.
“Bukit bintang” jawab Drake sambil membukakan pintu mobil untuknya.
“Wow… nice..” sahut Haze sambil memandangi langit “but why can’t I see the starry sky?”
“Cloudy, my dear..” Drake menjawabnya sambil menatap langit malam yang mendung.
“It’s gonna rain, Drake” kata Haze dengan nada khawatir.
“Don’t you like rain?” tanya Drake dengan heran.
“Nope!” jawab Haze tegas, Drake menatap mata Haze dengan heran. Haze tersenyum “but I love it, Drake.. I do love it. Thank you..” lanjut Haze kemudian memeluk lengan Drake dengan manja. Drake mengecup kepala Haze dengan lembut. Kemudian hujan turun membasahi mereka berdua, Haze begitu mencintai hujan sehingga dia tak perduli meski tubuh mungilnya menggigil kedinginan. Drake memeluk Haze yang menggigil, Haze tersenyum dalam pelukannya.
“Let’s go home now” ajak Drake
Haze menggeleng.
“Haze sayang, you’re freezing. Kita harus pulang sekarang. Hangatkan tubuhmu”
Haze menggeleng lagi. Drake menatapnya hangat, kemudian menggendongnya, membawanya masuk ke dalam mobil.
“Drake, please.. aku ingin menikmati hujan. I always love being in the middle of the rain. Why should we go? I love to be here” Haze keluar lagi dari dalam mobil dan duduk di atas kap mesinnya.
“Haizey sayang… kamu bisa mati kedinginan, wajahmu pucat sayang, aku ga mau kamu sakit” Drake menyusulnya.
“Tak ada yang bisa membunuhku, Drake. Apalagi ini hanya hujan.”
“Lalu?”
“Hanya kamu yang bisa membunuhku” Haze tersenyum kecil.

*****

“It’s raining”
“Yep”
“Still love it?”
“Yep”
“Wanna go outside?”
“Nope”
“Why?” tanya Drake dengan heran
“I just don’t wanna wearing wet clothes”
Drake menatapnya semakin heran. Haze tetap saja menghirup kopinya dan tak memperdulikan Drake yang terheran-heran “Seems not like you, Haze” kata Drake lemah
“I know” sahut Haze dingin.
Drake menghela nafas panjang, mencoba bersabar “So.. why are you running away from me?” tanyanya lagi
“I’m not”
“Explain”
Haze menghela nafas, meminta pelayan untuk membuatkannya secangkir kopi lagi, dan menawarkan Drake untuk minum, tapi Drake menolak dengan halus.
“I don’t know how to explain, Drake.. you don’t know who I am”
“I know you” Drake mengerutkan keningnya.
“No, you don’t!” Haze membentak.
“So tell me who the hell are you?” Drake mulai tidak sabar.
Sekali lagi Haze menghela nafasnya… “I don’t know” jawabnya santai.
“Damn! Haze…” Drake memaki dengan putus asa.
“I don’t have any idea about myself!! All I know is people around me always die!!! So many people wanna kill me in everywhere I stay. I don’t want you to die too. Just it, Drake. Can you understand? I love you, Drake… I do love you.. but..” Haze menggantung kalimatnya dan menghela nafas.
“What?” Drake menggeleng tidak mengerti.
Haze memandangnya dengan putus asa “I just love you..”
Drake menatap Haze lembut dan menggenggam tangannya yang dingin “Look! I’m here for you, I’ve been looking for you for a long time. Thanks God I found you sitting at the park. Don’t run away from me again, I don’t care who you are, I just wanna be with you, that’s all. You’re my life, Haze.. look into my eyes and you’ll know it’s true”
“I trust nobodies” sahut Haze pelan.
“Me neither?” tanya Drake tak percaya
“Neither do you” jawab Haze tegas.
Drake menghela nafasnya, tak tau lagi apa yang harus dikatakan untuk meyakinkan gadis yang dicintainya ini. Mereka berdua terdiam memandangi titik-titik hujan dari kaca jendela kafe. Haze melihat jam, sudah jam setengah 10.
“I have to work now, so long Drake..” Haze pamit.
“I go with you!” sahut Drake mantap.
Haze diam saja, meraih tasnya dan membayar billnya. Kemudian keluar menerobos udara malam yang semakin dingin. Drake menggenggam tangannya untuk menghangatkannya. Mereka berjalan bersama dalam diam.

*****

“What movie?” Drake bertanya pada Haze tanpa mengalihkan pandangannya dari jajaran judul film yang terpampang di depan bioskop.
“You choose” kata Haze santai
“Ummm…. I don’t have any idea, Haze” jawab Drake kebingungan.
“So do I.. hahaha..”
“Hey… kamu ngerjain aku ya…” Drake memandang Haze dan tersenyum lebar.
“Hahaha… aku cuma pengen bareng kamu aja koq. Jadi terserah mo nonton apaan” Haze tersenyum jahil.
“Bad girl, hem..”
“Hahahahaha… come on Drake, buy me a bag of popcorn please…”
“No!!! You’re a bad girl. Kamu harus dihukum” Drake menatap galak pada Haze dan menarik hidungnya. Haze mengusap-ngusap hidungnya, dan memohon dengan mata pura-pura sedih.
“Oh… Drake… pleaaassseeee….”
“Nope!!!”
“Please?” Haze menyatukan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia benar-benar memohon. Drake tersenyum dan mengecup kening kekasihnya yang manja itu kemudian membelikannya sekantung besar popcorn.
“Beli popcorn tapi ga nonton ya? Gitu?” Drake pura-pura menggerutu.
Haze tertawa-tawa kecil, menggoda Drake untuk tersenyum.
“Kita ke bukit bintang aja yuk, watch the stars aja. Sapa tau ada hujan meteor malam ini. Ini bulan Oktober, jadwalnya hujan meteor Orionid dan Perseid. Langitnya juga cerah, semua rasi bintang pasti berkumpul” ajak Haze
“My smart little black pearl… everything you want, I’m ready to serving you, my princess” Drake membungkuk dan mengulurkan tangannya ke arah Haze
Haze  tertawa kecil “Stop it! You make me shy, Drake… gendong aku” kata Haze sambil memutar pundak Drake
“No, I won’t” Drake berdiri tegak dan berlari kecil. Haze mengejar dan meraih pundaknya.
“Aku memaksa, hup!”
“Haze … kita bisa jatuh… hey…”
“Hahahahaha…”

*****

Haze mengeringkan gelas-gelas dan menatanya di meja bar ketika orang-orang itu datang menyergapnya.
“Jaaaccckkk…. Jaaa… hmpffff”
“Hei!! Kalian mau apa dengan..” dor! Ray si pemilik bar tewas di tempat. Sama seperti semua orang yang mencoba menghalangi mereka.
Mereka membawa Haze keluar bar dengan paksa. Drake yang masih berada tak jauh dari bar langsung mengejarnya. Jack menahannya, dan membuka pintu mobil untuknya.
“Masuk!”
Drake kebingungan.
“Cepat masuk! Kamu mau membantuku mengejar nona kan?”
Tanpa pikir panjang lagi, Drake masuk ke mobil itu.
“Pakai ini” Jack menyodorkan AK-shopmod pada Drake. Matanya terus saja membuntuti mobil yang membawa majikannya itu.
“Bagaimana cara pakainya?” Drake kebingungan.
“Tembak saja!” jawab Jack tidak sabar.
Drake masih memutar-mutar senjatanya. Sekarang mereka tepat di belakang mobil penculik. Mereka ditembaki. Drake menembak balik, tapi luput. Kemudian Drake menembaki mobil penculik. Jack menahannya.
“Bodoh!!! Kau mau membunuh nona??” Jack memaki.
“Maaf”
“Tembak penculiknya, jangan ledakkan mobilnya. Nona Haze ada di dalam, idiot!!”
“Aku sudah minta maaf!!” Drake berang.
Drake kembali menembaki orang-orang itu, kena satu. Pelurunya habis “Damn! Gimme another gun..”
Jack mengambil shotgun dan menggunakannya sendiri, dia tak peduli dengan Drake. Jack menembaki mereka satu persatu. Menyalip mobil penculik dan melumpuhkan sopirnya dengan satu tembakan. Drake berlari ke arah mobil itu dan mengeluarkan Haze, melepaskan sumpalan mulutnya dan ikatan di kaki dan tangannya, kemudian Drake memeluknya. Haze melepaskan pelukan itu dengan kasar dan menarik tangan Drake berlari ke arah mobil Jack. Jack meledakkan mobil penculik itu, dengan tembakan tepat di kap mesinnya. Kemudian melaju bersama Drake dan Haze di dalamnya.
“Jack, kita pulang dulu.”
“Tidak, nona. Kita harus meninggalkan kota ini.”
“Jack, please. I want take some stuffs”
“Saya sudah membawa beberapa barang nona”
“Ada apa ini Haze? Jelaskan padaku, jangan tinggalkan aku lagi, aku baru saja menemukanmu.”
“Maaf Tuan Drake, demi keselamatan nona. Saya harap Tuan bisa meninggalkan dan melupakan nona. Atau saya sendiri yang akan membunuh Tuan.” Jawab Jack sambil mengacungkan shotgun di kepala Drake. Drake membeku.
“YOU DON’T HAVE TO DO THAT JACK!!!” Haze berteriak.
“Saya hanya melakukannya demi kebaikan nona, tidak seharusnya nona bergaul dengan orang luar.”
“Jack! Aku akan pergi, aku akan pergi, aku selalu menurut. Aku tau cepat atau lambat aku akan mati. Aku sendirian Jack, hanya ada kamu dan Drake. Aku mencintai Drake, biarkan dia hidup. Aku ingin dia hidup. Jangan bunuh dia Jack.” Haze memohon.
“Nona, pria ini berbahaya. Setiap kali dia muncul, nona selalu mendapat serangan”
“Tidak, Jack. Dia tidak tau apa-apa.”
“Dia hanya berpura-pura bodoh, nona.”
“Aku mempercayainya Jack. Turunkan senjatamu dari kepalanya!!!”
“Tidak, nona”
“Jacky.. put your gun down or I will kill you!!!” Haze mengancam Jack dan menodongkan phytonnya ke kepala Jack.
“Nona…??” Jack terkejut.
“PUT YOUR GUN DOWN, NOW!!!” Haze berteriak.
Jack menghela nafasnya, tapi tetap tak menurunkan senjatanya.
“Don’t make me do it, Jack. Put your gun down..” kali ini Haze lebih dengan nada memohon.
“Nona, saya dilatih untuk melindungi nona, saya siap mati untuk nona”
“Jack, please…” Haze mulai memohon dengan putus asa.
Jack mulai menarik pelatuk shotgunnya, detik itu juga Drake membuka pintu mobil dan Haze menendang Drake keluar. Kaca belakang mobil pecah, pelipis Drake terluka. Jack menutup matanya sejenak, mencoba memaklumi tindakan Haze yang gegabah, lalu menghentikan mobilnya.
“Keep moving, Jack. We should go now..” Haze memohon, sambil menutup pintu di sisi kanannya.
Jack menghela nafas, memperhatikan kaca spionnya. Drake sudah berlari entah kemana. Jack melaju dengan kecepatan maksimal, menembus kabut yang menutupi jalan.

*****

“Wow… fallen star!!” Haze bersorak dan menunjuk langit.
“Make a wish” kata Drake santai, sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
Haze melompat, seolah sedang menangkap bintang itu. Drake bingung “What are you doing?”
“Catch the star” jawab Haze santai.
“What for?”
“For you…” kemudian Haze membuka tangannya, di tangannya ada sebuah kalung dari tali berwarna hitam yang dianyam dengan bandul berbentuk bintang dengan warna yang sama dengan talinya.
“Wow.. Haze..” Drake mengucapkannya dengan takjub dan mata berbinar-binar.
“I make it myself… do you like it?”
“Sure..”
Haze memasangkan kalung itu ke leher Drake “You’re mine, Dracomüllé Nocturna” dan dia mengecup bibir Drake dengan lembut.
“Wait” Drake menolaknya dengan lembut.
“What?” Haze menatapnya heran.
“I will make you mine too..” kata Drake sambil melepaskan cincin miliknya. Kemudian memasangkan cincin itu di jari manisnya. “You’re mine Hazellion Schwarzwald. And I’m proud to be yours” kemudian Drake mencium bibir Haze dengan sangat lembut, ciumannya seperti heroin yang membuatnya melayang, terbang bersama bintang-bintang.

*****

“You look so tired, my lady” Jack memperhatikan wajah Haze dari kaca spionnya, dan memperlambat laju mobilnya.
“Hard day, Jack” jawab Haze singkat.
“Yep.. then you can sleep in the plane” sahut Jack. Sebentar lagi mereka tiba di landasan pesawat pribadi milik keluarga Schwarzwald.
“Where shall we go?”
“Sitka”
“Hem.. Alaska.. Is it save there?”
“I’m not sure”
“Geez.. no place for me in this small fuckin’ earth even in the city which is not exist! Why don’t you just take me to another planet? I’m tired Jack. I’m so tired!”
Jack menghentikan mobilnya, mereka sudah sampai. Lalu dia membongkar barang-barang dari bagasi mobilnya. Haze membanting pintu dengan marah. Dan masuk ke dalam pesawat pribadinya dengan lelah. Membuka sebotol champagne dan mengambil sebungkus rokok dari mini bar. Mereka sudah hampir tiba di landasan pesawat pribadi milik keluarga Schwarzwald. Haze merebahkan diri sejenak, kemudian menenggak champagne langsung dari botolnya, menyulut rokoknya, dan menghisapnya dengan marah. Jack menghampiri.
“It can kill you, my lady” Jack berkata dengan lembut dan mengambil rokok ditangan Haze kemudian membuangnya.
“You either! This fuckin’ plane too! This whole world can kill me, you know that!” Haze membentak Jack.
“So why don’t you think Drake might kill you?” Jack balik bertanya.
“He loves me” jawab Haze sedih.
“Love’s not guarantee that he won’t kill you.”
“I trust him”
“Don’t!” Jack memperingatkan.
“I trust him!!!! He loves me, you just jealous with him!” Haze menegaskan.
“No, my lady. It’s my duty and my promise to keep you save. No matter how much he loves you, in this big world you should trust nobodies. Got it?”
Haze lelah berdebat dengan Jack. Haze memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat. Menunggu pesawat lepas landas. Seorang pria berlari-lari tertatih sepanjang landasan. Haze terlompat dari kursinya, meski gelap dia tau kalau itu adalah Drake. Haze berlari ke arah pintu pesawat dan menekan tombol di sampingnya, hingga pintunya terbuka. Haze yang luput dari pengawasan Jack, melompat dari pesawat. Kaki kanan Haze terkilir karena pendaratannya kurang mulus, namun dia tak peduli, dia terus saja berlari ke arah Drake.
Jack yang sedang mengemas senjata di gudang, melihat Haze berlari terpincang-pincang langsung meraih mp7 dan mengejar Haze. Jack melihat Drake dari arah depan. Dia menembak Drake, dan mengenai lengannya. Haze menoleh ke arah suara tembakan di belakangnya.
“What the fuck you doing, Jack!!!” Haze berteriak.
Jack menjatuhkan Haze ke tanah. Haze meronta-ronta. Terdengar desingan peluru dari atas. Kemudian pesawat itu meledak. Seseorang yang berdiri dari atas menara pengawas telah meledakkannya dengan bazooka. Dan Haze melihat orang itu mengarahkan bazooka itu pada mereka. Jack mengangkat Haze dan berlari ke gudang senjata. Kali ini Haze menurut, tidak lagi meronta-ronta. Dan tiba-tiba dia teringat Drake.
“Jack, we have to pick Drake up”
“Think of your safety! There’s someone with rpg above the tower”
“I know.. but..”
“Leave him, my lady” Jack berkata sambil mondar-mandir dari rak senjata yang satu ke rak senjata yang lain.
“I won’t let him die, Jack..”
“He won’t die” jawab Jack acuh sambil mengisi amunisi pada tiap senjata yang dipersiapkannya.
“Where did you know?”
Jack menatap mata Haze “He won’t!!! I promise” Jack keluar dari persembunyiannya, menembaki sekelompok orang yang telah mengepung mereka.

*****

Jack masuk ke halaman rumah bangsawan ini dengan mobil sedan hitamnya. Jauh sekali jarak rumah dan pintu gerbangnya. Jack terlahir di keluarga samurai dengan nama Tora Seigan, ayah dan ibunya tewas di hadapannya ketika dia berumur 10 tahun. Sejak saat itu Jack hidup menggelandang dan penuh dendam dengan memanggul sebilah pedang peninggalan ayahnya. Tora bertemu dengan Tuan Schwarzwald, ayah Haze ketika Tora sedang berlatih pedang di tengah hutan. Tora mengacungkan pedangnya ke arah Tuan Schwarzwald dengan mata tajamnya. Tuan Schwarzwald hanya tersenyum, dan membiarkan Tora mengayunkan pedang ke tubuhnya. Tuan Schwarzwald hanya melompat-lompat menghindar dan tetap tersenyum, senyum itu justru memancing kemarahan Tora, di matanya, Tuan Schwarzwald seperti sedang mengejeknya. Tora terus menyerang sekuat tenaga hingga dia kelelahan sendiri, Tuan Schwarzwald tertawa ringan melihat Tora terkapar di tanah karena lelah. Tora menangis, kemudian pria tampan itu mengusap kepalanya dan membantunya berdiri, dia kagum pada kemarahan Tora yang berapi-api, lalu dia mengajak Tora ke hotel tempat dia menginap, agar Tora bisa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang sudah berbulan-bulan tidak digantinya. Setelah bersih, Tuan Schwarzwald mengajaknya makan, Tora yang sudah lupa kapan terakhir kalinya dia makan, melahap habis hidangan yang tersedia di meja. Tuan Schwarzwald tertawa melihatnya, tawanya renyah. Sejak saat itu Tora bersumpah dalam hati bahwa dia akan mengabdi padanya sampai mati.
Tuan Schwarzwald memasukkan Tora ke akademi militer miliknya dan mengganti namanya menjadi Jack. Jack adalah anggota termuda di akademi itu, namun semangatnya tak kalah dengan anak didik lainnya. Jack menjadi pengawal pribadi keluarga Tuan Schwarzwald sejak umurnya 17 tahun. Tepat ketika Nyonya Schwarzwald melahirkan bayi mungil yang begitu cantik dan menggemaskan.
Jack memencet bel pintu depan rumah keluarga Schwarzwald. Dan Tuan Schwarzwald sendiri yang membukakannya.
“Selamat datang, Jack. Bagaimana perjalananmu?” sapa Tuan Schwarzwarld ramah.
“Menyenangkan Tuan, walau kabutnya lumayan tebal”
“Itu biasa kalau kau melintasi hutan sekitar sini. Ayo ikut aku, kau harus lihat wajah putriku yang baru lahir”
Jack mengikuti Tuan Schwarzwald ke kamar. Ada beberapa pelayan dan perawat berada di dalam kamar yang sangat luas itu. Di tengah ranjang besar itu terlihat seorang wanita yang kelelahan namun tak menghapus kecantikan dan kegembiraan yang terpancar dari matanya. Dia sedang menimang bayi perempuan mungil yang tak berhenti meraung-raung. Jack memperhatikan bayi mungil yang tak bisa diam itu.
“Dia cantik bukan?”
“Benar sekali, Tuan. Siapa namanya?”
“Kami belum memberinya nama”
Jack menyentuh jari bayi itu, dan dia menangkapnya, seketika itu juga bayi mungil itu berhenti menangis.
“Jack, kau menenangkannya!” Nyonya Schwarzwald berseru.
Jack tersenyum, untuk pertama kalinya Jack tersenyum lagi. Dia hampir lupa caranya tersenyum. Kemudian Jack bergumam pelan “Hello, little Haze”
“Haze?” tanya Tuan Schwarzwald untuk meyakinkan pendengarannya.
“Maaf Tuan, itu nama mendiang adik perempuan saya” jawab Jack jujur.
“Nama yang bagus. Bagaimana kalau kita beri dia nama Hazellion Schwarzwald? Cantik kan?” Tuan Schwarzwald berkata dengan spontan. Membuat Jack semakin salah tingkah.
Istrinya tersenyum memandang Tuan Schwarzwald “Nama yang bagus, sayang.” Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jack “Terima kasih, Jack.”
“Maaf saya tidak bermaksud lancang, saya hanya…”
“Tidak apa-apa, namanya juga sesuai dengan cuaca yang berkabut hari ini dan aku yakin matanya juga berwarna hazelnut.” Tuan Schwarzwald berkata dengan wajah berseri-seri “Kau lelah Jack? Istirahatlah… besok hari yang sibuk” dia menambahkan, lalu menggendong putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.

*****

Haze berlari menyusul Jack, mengerahkan seluruh tenaga untuk melumpuhkan mereka semua. Jack menarik lengan Haze dan berlari lagi kembali ke gudang senjata.
“Too much enemies. You should stay here!”
“Lemme help you, Jack. I don’t let you die alone”
“It’s not a suicide mission, my lady. You should stay alive. You’re the last of Schwardzwald’s”
“But Jack, you just like my big brother, I won’t let you die” kata Haze bersungguh-sungguh.
“I’m not your brother, my lady. I’m your guardian so it’ll be okay if I die now. You have so many bodyguards in Alaska. And remember… trust no one!” Jack menperingatkan.
“But Jack, the plane just blew up a minute ago, that’s why we’re here. How can I go to Alaska?”
Jack terdiam, dia baru ingat kalau pesawatnya sudah meledak. Haze tertawa melihat wajah Jack yang kebingungan. “Confused, Jack? Haha… so let’s die or life together, u don’t have any option Jack. Lemme help you.”
Jack menatap Haze, dan Haze mengangguk untuk meyakinkan Jack. Jack mengambil beberapa senjata dan granat. Haze tak mau kalah, dia juga menyiapkan dirinya dengan membawa begitu banyak senjata. Jack memandanginya dan mengambil beberapa senjata dari tubuhnya.
“Nona, dengan senjata sebanyak itu, berdiri tegakpun nona tak akan sanggup.”
“But you can” sahut Haze dengan nada protes.
“I’ve been trained” Jack menjawab dengan tenang.
“Go!” perintah Haze dengan tidak sabar.
“Nona, kali ini izinkan saya yang memberi perintah”
“Baiklah” kata Haze santai, kemudian tersenyum.
Jack memandang gadis ini dengan pandangan heran. Dia akan mati, tapi wajahnya tampak semangat sekali, tak ada ketakutan di matanya “Okay, stay close”
Mereka keluar lagi dari persembunyian, bersembunyi dalam gelap dan tetap waspada. Mereka masuk ke dalam ruang mesin dan peralatan pesawat. Jack melihat C4 terpasang dekat persediaan bahan bakar pesawat. Jack menarik Haze menjauhi ruang mesin, dan bum! Ruang mesin meledak. Mereka terlempar sejauh 3 meter, Jack membantu Haze berdiri. “Are you okay?”
“I’m fine” jawab Haze berbohong. Sekujur tubuhnya sakit. Pelipisnya tergores pecahan logam. Matanya buram oleh darah yang mengalir dari pelipisnya.
“Come on, I hold you” Jack memapah Haze yang terpincang-pincang. Kemudian mereka kembali dihujani peluru dari segala penjuru mata angin. Jack membelakangi tubuh Haze, membiarkannya bersandar sambil menembaki musuh. Haze akhirnya mampu menguasai diri dan mampu menopang tubuhnya sendiri, diapun ikut membantu menembaki musuh, satu persatu tumbang. Dan entah berapa butir peluru yang mengenai tubuh mereka. Mereka berlari lagi mencari tempat berlindung, Jack melempar granat ke arah musuh. Bum! Bum! Bum! Ledakan dimana-mana.
“It will be a long long long nite, Jack. Hahaha..” Haze menganggap pertarungan ini seperti lelucon yang konyol “Can you feel the beat? You can dance while you shot. Listen to the rhythm. Hup.. ca ca ca.. hup.. ca ca ca.. can you feel it?” Haze menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil melompat-lompat dan tertawa.
“Anda masih bisa tertawa, nona?” Jack tak percaya. “Apa anda menghisap ganja?”
Haze tertawa lagi mendengar pertanyaan Jack “Jika kita mati, tak ada lagi waktu untuk tertawa. Tertawalah sepuasnya Jack. Aku belum pernah melihatmu tertawa. Ayolah nikmati saja pertarungan ini, setidaknya Tuhan tau kalau kita tidak menyerah. Mamma and daddy will be proud with you” Haze menepuk pundak Jack.
“Saya tidak tau harus berkata apa pada Tuan dan Nyonya jika membiarkan nona mati”
“Kau petarung terbaik Jack. They know about that. They’ll understand and forgive you. They watch us from above. You always take care of me”
“Tidak nona. Saya penjaga yang buruk.”
“You’re the best, Jack. Thank you” kata Haze dengan tulus.
“Kita kembali ke gudang, nona. Sepertinya amunisi saya habis”
“Oke”
Mereka berlari-lari ke arah gudang senjata. Jack mengambil beberapa amunisi, Haze membuang shotgun dan rompi anti pelurunya yang berat. Desingan peluru terdengar dari arah belakang dan mengenai pundaknya. Rak disampingnya rubuh dan mematahkan tulang keringnya. Haze mengerang kesakitan. Dengan cepat Jack melindungi Haze dan menembaki ke arah tumpukan kotak. Jack menggeram marah, dan mendatangi tumpukan itu dan memukul jatuh si penembak, kemudian menembaknya berkali-kali sampai pelurunya habis meski dia sudah mati. Jack berlari ke arah Haze, dan mengeluarkan peluru dari pundaknya, kemudian membebatnya untuk menghentikan pendarahan.
“Akan kuhabisi mereka semua!!” Jack berjanji
“Jack… kumohon jangan mati” pinta Haze sungguh-sungguh.
“Nona di sini saja, bersembunyilah di sini. Semua akan baik-baik saja. Aku janji” kata Jack sambil menggendong Haze dan menaruhnya di tumpukan kotak dimana si penembak bersembunyi tadi.
Jack keluar dari gedung itu, Haze mengintip dari balik kotak, mengambil snipper yang tergeletak di sampingnya. Berjaga-jaga. Desingan peluru terdengar berisik sekali. Haze menangis, mengkhawatirkan keadaan Jack. Kemudian senyap, tak ada lagi suara desingan peluru, tak ada lagi ledakan. Begitu hening, begitu tenang.
“Jack..” bisik Haze. Tak ada suara langkah kaki sedikitpun. Haze meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Kemudian terdengar suara kaki terseret-seret memasuki gudang. Tangan Haze gemetar. Dia tak sanggup mengangkat snippernya, tiba-tiba saja senjata itu menjadi 100 kali lebih berat dari biasanya. Diletakkannya snipper itu kemudian mengambil revolver yang berada di tubuh mayat yang tergeletak di sampingnya. Haze mengintip dari balik kotak.
“Nona..” bisik Jack.
“Jack? Kau masih hidup? Syukurlah..”
“Tidak apa-apa nona. Sudah aman, mari kita keluar dari sini”
Susah payah Haze berdiri dari tumpukan kotak, tersenyum lemah ke arah Jack yang tampak lebih tua 100 tahun dari umurnya. Jack mengulurkan tangannya pada Haze dan dor! Sebutir peluru bersarang di kepala Jack dan merubuhkannya seketika. “Jaaaaaaaaccckkkkk!!!!!” Haze berteriak dan menembak membabi buta ke arah penembak yang berada di belakang Jack. Penembak itu tewas. Haze memeluk Jack dan menangis terisak “You promise, Jack. You promise to not die. You promise everything’s gonna be alrite. You lie to me, Jack. You’re such a fuckin’ liar!!! You leave me alone…”

*****

“Nonaaaa… turuuuun…” teriak seorang pelayan
“I won’t!!!” teriak Haze dari atas pohon.
“Nona… saya mohon turunlah, Nyonya akan marah besar”
“Nope!!” Haze masih saja berkeras duduk di dahan pohon besar dan menggoyang-goyang kakinya, menjulurkan lidah kepada pelayan di bawahnya. Tiba-tiba Jack sudah duduk disampingnya.
“What are you doing here?” tanya Haze ketus.
“Accompany you, my lady” jawab Jack tenang.
“I wanna jump” Haze menantangnya.
“I’ll jump first” sahut Jack.
“Ya sudah, lompat sana!”
Jack pun melompat dari atas pohon. Dia mendarat dengan mulus. Haze memandanginya takjub.
“Come on.. jump!” tantang Jack.
Haze melihat ke bawah dengan takut-takut. Kemudian dia memejamkan mata dan melompat juga. Dengan cekatan Jack menangkap Haze. Haze membuka matanya dan melompat dari pelukan Jack kemudian bersorak “Yippiiieeeee”
“Jack!! Apa yang kamu lakukan???!! Kamu memberi contoh buruk padanya!” hardik ibunya.
“Mamma… Jack catched me when I jumped… “ Haze melapor pada ibunya “Look at me, Mom.. I don’t get hurt at all” Haze membela Jack.
“Haze… masuk ke dalam rumah!! Jack ikut saya” ayahnya berkata dengan tegas.
“Daddy….” Haze berkata dengan nada memohon.
“Get in!!!”

*****

Haze mendengar suara langkah kaki lagi, susah payah Haze menyeret tubuh Jack yang sudah mati ke tempat persembunyiannya. Haze mengambil dua potong papan seukuran kakinya dan membebatnya di bagian kakinya yang patah. Dia bersandar di dinding, menahan rasa sakit yang semakin menjalar di sekujur tubuhnya. Langkah kaki itu masih terdengar dan semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan pintu. Haze mengisi revolvernya yang sudah habis amunisinya. Kemudian dia mengintip dengan waspada.
Sinar matahari pagi menyilaukan pandangannya, sesosok pria datang dari arah yang sama dengan datangnya matahari. Haze memicingkan matanya, hanya bayangan hitam yang dia tangkap, bayangan itu berdiri mematung di depan pintu.
“Drake.. is it you, honey??” Haze bertanya lirih, masih berada di tempat persembunyiannya sambil mengawasi bayangan yang tampak di kenalinya.
“Haizey.. where are you? Come out my princess.. it’s save now.. don’t be afraid, I’m here..” bayangan itu menjawab.
“Drake.. drake.. oh drake..” Haze melepaskan revolvernya, tertatih-tatih dia menuju bayangan hitam itu.. tulang keringnya patah, lengannya memar, pelipisnya terluka, pundaknya tak henti mengucurkan darah dan entah berapa banyak peluru yang mengenai tubuhnya yang mungil.
Drake menyambutnya dengan tatapan hangat tak bergeming dari ambang pintu, Haze tersenyum meski menahan rasa sakit. Ketika Haze tepat 1 meter di depannya, Drake mengacungkan revolvernya tepat di kepala Haze. Haze terhenti, terkejut.
“Drake.. what the hell is all about?!!!” tanya Haze tidak mengerti.
“Haizey.. my lovely sweety Haze.. ini bukan cerita Shakespear sayang.. kau dan aku bukanlah Romeo dan Juliet, aku harus membunuhmu agar aku bisa tetap hidup, itulah yang keluargamu lakukan pada keluargaku.. aku yakin bahkan di nerakapun kau tidak akan melupakanku, say.. onara..” Drake mengucapkannya dengan nada dramatis.
“Fuck you!!!” maki Haze bersamaan dengan desing peluru yang menembus tengkoraknya.

*****

“Ayah??!! Ayah!! Ada apa??!!” Drake berteriak dan berlari menghampiri ayahnya yang bersimbah darah.
“De..de..de..drake..” ayahnya terbata.
“Siapa yang melakukannya?”
“Pe.. pe.. pe.. mi.. lik hu.. hu.. hu.. tan..”
Drake menggeleng tak percaya. “Apa yang terjadi?”
“I.. i.. ini.. hu.. hu.. hu.. tan me.. me..reka”
Drake mengerutkan kening tak mengerti. “Siapa mereka?”
“Ta.. ta.. ta.. npa.. i.. zin..” kemudian ayahnya menelengkan kepalanya. Drake mengguncang tubuh ayahnya. Tak ada respon, Drake menangis tertahan dan merangkul ayahnya. Dia mengangkat ayahnya dan membersihkan jasadnya lalu menguburkannya. Sepanjang malam Drake berpikir, apa maksud perkataan ayahnya, kemudian dia berpikir lagi, apa benar orang yang mendekati ajal akan menjadi linglung dan berbicara hal yang tak masuk akal?
Keesokan harinya, Drake menemukan selembar kertas berlumuran darah yang terselip diantara dedaunan di lantai hutan. Drake memungut dan membacanya. Ternyata ayahnya berbohong, isi kertas itu adalah kesepakatan damai antara keluarganya dan keluarga Schwarzwald. Di bagian bawahnya ada tanda tangan Tuan Schwarzwald dan tanda tangan ayahnya. Ayahnya ingin menyelesaikan dendam mereka dengan cara kekeluargaan, karena beliau tau bahwa Drake sangat mencintai putri tunggal keluarga Schwarzwald. Drake bertanya-tanya lagi, kenapa ayahnya pulang dengan bersimbah darah jika surat itu sudah disepakati oleh keduanya. Kenapa Tuan Schwarzwald harus berbuat curang?
Drake membongkar barang-barang tua milik ayahnya, dia membaca agenda ayahnya. Dan akhirnya dia tau bahwa keluarganya adalah musuh bebuyutan keluarga Schwarzwald. Ibu dan kakak-kakaknya mati bukan karena kebakaran, tapi karena rumahnya diledakkan. Drake dan ayahnya selamat, karena pada saat itu, Drake pergi ke kota bersama ayahnya agar ibu dan kakak-kakaknya bisa menyiapkan pesta kejutan untuknya. Hari itu hari ulang tahunnya yang ke-3. Tapi saat mereka kembali, tawa di wajah ayahnya menghilang, rumahnya sudah rata dengan tanah. Drake masih terlalu kecil untuk mengingat hal-hal seperti itu, dia sudah melupakannya.
Ayahnya membawanya tinggal di tengah hutan untuk menenangan diri. Ayahnya ingin hidup damai, sebenarnya ayah sudah lama pensiun dari pekerjaan kotornya. Dulu ayahnya adalah seorang pengawal terhebat untuk keluarga Schwarzwald. Ayahnya yatim piatu dan diasuh oleh kakeknya Haze. George, Jr. ayahnya Haze lebih tua 3 tahun, ayahnya menjadi teman bermain George, Jr. mereka tumbuh besar bersama. Kakek Haze sangat baik pada ayahnya, hingga ketika remaja ayahnya tau bahwa keluarga Schwarzwald adalah keturunan bangsawan sekaligus kelompok mafia terbesar dan yang paling disegani di seluruh penjuru negri. Bertiga mereka bahu membahu memperluas jaringan sampai ke sejumlah negri. Begitu banyak pertarungan, begitu banyak darah, sampai akhirnya dia bertemu dengan wanita sederhana yang tinggal jauh di pelosok daerah pedesaan yang sejuk. Ayahnya melihat kedamaian di sana, dan memutuskan untuk meninggalkan keluarga Schwarzwald yang telah berbaik hati telah mengasuhnya. Kakek Haze sedang sakit parah saat ayah memutuskan untuk pergi. Dan untuk pertama kalinya, ayahnya dan ayah Haze bertengkar hebat, mereka saling mengacungkan senjata di depan kakek Haze yang sedang sakit. Kakek Haze pria tua yang baik hati, sebenarnya dia mengizinkan ayahnya pergi hanya saja George, Jr. melarangnya pergi, dia menganggap ayahnya pengkhianat. Kakek Heiz yang memang sudah sakit parah, tiba-tiba terkena serangan jantung, akibat pertengkaran mereka berdua. George, Jr. menyalahkan ayahnya, dan menembaki ayahnya. Terjadi adu tembak sampai akhirnya pengawal datang dan memisahkan mereka yang sama-sama terluka parah. Ayahnya tetap saja keluar dari rumah itu meski terluka parah dan duka yang mendalam. Ayah datang saat pemakaman kakek Haze, memandang dari kejauhan kemudian pergi menuju pedesaan, menikahi wanita yang dicintainya. Hidupnya begitu damai selama belasan tahun, sampai George, Jr. berhasil menemukannya dan meratakan rumah beserta istri dan anak-anaknya.
Haze

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss