29.3.11

Analisis Paragraf Pertama charles dickens Dalam Buku "A Tale Of Two Cities"

Dibuat Oleh : Indriana Dewi Lestari
Revolusi menurut Soekarno adalah proses penjungrkirbalikkan nilai-nilai yang ada. Kemudian Tan Malaka berkomentar bahwa revolusi adalah mencipta tatanan sosial yang baru (tanpa penindasan), dan menurut Ali Syariati revolusi adalah pembebasan kaum mustadafin (tertindas) oleh kaum mustakbirin (penindas).
Semua pengertian revolusi yang dipaparkan para ahli diatas merujuk pada sebuah kata, yaitu Perubahan, dimana rakyat mulai jenuh dengan suatu sistem kehidupan yang ditetapkan oleh para pemimpinnya, sehingga rakyat mulai membuat suatu gerakan-gerakan (movements) yang bertujuan membawa perubahan sosial bagi kehidupan mereka.
Menurut Wikipedia Indonesia, revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru.
Beberapa revolusi besar yang pernah terjadi di dunia diantaranya adalah Revolusi Industri yang terjadi di Inggris, Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, dsb. Begitu hebatnya pengaruh revolusi suatu negara menginspirasi negara lain untuk mengikuti jejaknya. Sebagai contoh revolusi rakyat Tunisia yang menurunkan presiden Zine El Abidine Ben Ali memberi inspirasi kepada rakyat Mesir untuk menurunkan Husni Mubarak, presiden yang telah berkuasa selama 30 tahun di Mesir.
Revolusi tidak hanya memberikan inspirasi bagi negara lain yang sedang mengalami gejolak perubahan, namun juga kepada seorang sastrawan berkebangsaan Inggris, Charles John Huffam Dickens atau yang lebih dikenal dengan nama Charles Dickens, yang telah banyak menghasilkan karya-karya terkenal seperti Oliver Twist, A Christmas Carol, A Tale of Two Cities, dsb. Dalam novelnya yang berjudul A Tale of Two Cities, Dickens secara khusus membahas tentang sebuah kisah manusia dengan latar belakang Revolusi Perancis.
A Tale of Cities bercerita tentang seorang pengacara yang kacau bernama Sydney Carton yang membela kliennya Charles Darnay, seorang imigran yang dituduh sebagai mata-mata melawan Inggris. Namun Carton jatuh cinta pada tunangan Darnay, Lucie Manette, dan setuju untuk membantunya menyelamatkan Darnay dari hukuman pancung guillotine ketika ia ditangkap oleh revolusioner di Paris.
Ya,  Perancis tiga abad lampau adalah sebuah negara dengan pemerintahan yang kejam. Para bangsawan di Gabelle berfoya-foya di atas penderitaan rakyat Perancis, dimana diberlakukan suatu peraturan bahwa penghasilan bersih rakyat Perancis harus dipotong pajak yang besarnya lebih dari 30%. Akibatnya sistem pajak tidak seimbang dan utang nasional semakin menumpuk. Rakyat mulai jenuh dengan sistem pemerintahan monarki yang bersifat absolut. Mereka marah terhadap hak-hak istimewa yang dimiliki kaum bangsawan dan dominasi dalam kehidupan publik oleh kelas profesional yang ambisius. Kelaparan mulai melanda negeri Perancis akibat gagal panen. Kebencian terhadap intoleransi agama mulai muncul. Namun rakyat tidak bisa berbuat banyak. Penjara Bastille yang mengerikan disediakan bagi mereka yang membangkang. Pada 1789, ribuan orang yang marah menggasak istana, membunuhi para bangsawan, membebaskan sandera sembari berteriak liberté (kebebasan), égalité (persamaan), fraternité (persaudaraan).
Peperangan dalam revolusi ini sedikitnya telah menewaskan 40.000 orang, termasuk Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, dimana sebagian besar rakyat Prancis divonis hukuman mati dengan menggunakan sebuah alat eksekusi yang “manusiawi” yaitu guillotine. Penyerbuan massal ke Penjara Bastille juga menewaskan gubernur Paris, Marquis Bernard de Launay, dan beberapa pengawalnya. Walaupun orang Paris hanya membebaskan 7 tahanan; 4 pemalsu, 2 orang gila, dan seorang penjahat seks yang berbahaya, Bastille telah menjadi simbol potensial bagi segala sesuatu yang dibenci di masa ancien régime (Rezim Lama). Kembali ke Hôtel de Ville (sebuah balai kota), massa mendakwa prévôt des marchands (seperti walikota) Jacques de Flesselles atas pengkhianatan. Pembunuhan terhadapnya terjadi dalam perjalanan ke sebuah pengadilan pura-pura di Palais Royal.
Revolusi Perancis juga melahirkan berbagai kisah-kisah kepahlawanan, diantaranya gagasan-gagasan cemerlang yang dikemukakan beberapa tokoh seperti John Locke, Montesquieu, J.J Rosseau, dsb. John Locke dan Montesquieu mengemukakan bahwa pemerintahan harus dipegang oleh lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Sistem pemerintahan monarki pada dasarnya dapat berjalan dengan baik jika pemegang kekuasaan dapat bersikap layaknya seorang pemimpin yang bertanggungjawab. Namun pemerintahan Raja Louise XVI tidak mencerminkan kepemimpinan yang baik. Dia tidak dapat mengatasi gejolak-gejolak yang terjadi semasa pra-revolusi. Kekacauan yang terjadi diperparah dengan sikap istrinya, Marie Antoinette yang gemar berfoya-foya.
Pemerintahan berjalan timpang karena Etats-Généraux 1978 (Komite Keselamatan Publik), sebuah lembaga yang dibentuk oleh Raja Louise XVI untuk menjalankan roda pemerintahan, saling berambisi untuk menguasai Perancis dengan caranya masing-masing. Di bawah konstitusi tahun 1791, Perancis menjalankan bentuk pemerintahan secara monarki konstitusional yaitu Raja membagi kekuasaan dengan anggota legislatif yang terpilih, namun demikian pihak kerajaan masih memiliki hak veto atas keputusan legislatif ataupun hak dalam melakukan pemilihan terhadap menteri di kabinet. Anggota legislatif sendiri melakukan sidang pertama kali pada tanggal 1 Oktober 1971.
Secara umum anggota legislatif Perancis terdiri dari 165 orang kaum Feuillants (monarki konstitusional) atau yang dikenal sebagai sayap kanan, 330 Girondists (liberal) dan Jacobins (revolusioner) yang dikenal sebagai sayap kiri serta 250 orang yang tidak berafiliasi kepada aliran politik apapun. Dalam prakteknya, beberapa keputusan Raja Louis XVI yang memveto hasil keputusan legislatif, membuat sebagian besar anggota legislatif terutama dari sayap kiri merasa tidak puas dan hal inilah yang kemudian menyulut krisis konstitusional di kemudian hari.
Tak mau ketinggalan, J.J. Rosseau muncul dengan paham demokrasi yang dituangkannya dalam buku berjudul Du Contract Social bahwa kekuasaan harus berada di tangan rakyat. Dominasi gereja katolik yang menguasai 10% lahan kerajaan juga ditentang oleh Voltaire, salah seorang penggagas ide Pencerahan. Menurutnya, kaum minoritas Kristen juga mempunyai hak yang sama dengan kaum Khatolik.
Dan yang paling menonjol adalah pengambilalihan kekuasaan oleh seorang tentara Perancis berpangkat letnan yang terkenal akan kemenangannya merebut kota Toulan yang sebelumnya dikuasai oleh tentara Inggris. Napoleon Bonaparte, seorang pria kelahiran Corsica yang menjadi Kaisar Perancis dan berkuasa lebih dari 14 tahun di Perancis.
Ya, revolusi memang dapat dijalankan tanpa kekerasan ataupun melalui kekerasan. Walaupun sebagian besar, usaha rakyat untuk mendapatkan revolusi harus berujung dengan peperangan. Seperti kisah revolusi Perancis yang telah menewaskan puluhan ribu orang, menghancurkan jutaan rumah rakyat dan infrastruktur. Revolusi tidak hanya bercerita tentang kisah kemenangan rakyat, namun juga kesedihan yang dirasakan rakyat. Rasa tidak aman, mencekam, kehilangan sanak saudara, membayang-bayangi kehidupan mereka. Di dalam suatu perang memang harus selalu ada yang dikorbankan.
Namun revolusi juga membakar semangat rakyat, untuk bersatu mendapatkan satu tujuan yang sama, yaitu perubahan. Revolusi memberikan inspirasi bagi para ahli, sehingga mereka mengeluarkan gagasan-gagasan cemerlang untuk menyelamatkan negaranya. Peperangan yang telah menewaskan banyak orang menyadarkan rakyat bahwa perang harus segera diakhiri agar semua pengorbanan yang mereka lakukan tidaklah sia-sia.
Dickens menangkap sisi ketakutan dan kebahagiaan rakyat Perancis selama Revolusi Perancis berlangsung. Bahkan ia menuangkan idenya pada paragraph pertama bukunya yang berbunyi:
It was the best of times, it was the worst of times,
it was the age of wisdom, it was the age of foolishness,
it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity,
it was the season of Light, it was the season of Darkness,
it was the spring of hope, it was the winter of despair,
we had everything before us, we had nothing before us,
we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way - in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only.
Paragraf pertama Dickens ini merupakan sebuah contoh paradoks yang indah untuk menggambarkan situasi yang saling bertolak belakang, kontradiksi satu sama lain. Paragraf ini mengacu pada masa pergolakan sosial yang besar. Kondisi mengerikan yang akan disebabkan peperangan selama Revolusi Perancis diimbangi dengan harapan bahwa hasil akhirnya akan membawa perubahan yang lebih baik. Jadi Revolusi Perancis adalah momen terbaik yang dimiliki rakyat miskin (It was the best of times) karena akhirnya mereka memiliki harapan untuk sebuah perubahan, tetapi revolusi Perancis juga merupakan momen terburuk bagi mereka (it was the worst of times), karena revolusioner telah memulai Pemerintahan Teror (Reign of Terror), sebuah masa pemerintahan dimana rakyat yang tidak mendukung revolusi dipancung dengan menggunakan guillotine. Ratusan orang setiap hari dipancung –seringkali tanpa diadili, seringkali tanpa kesalahan–
Di Inggris, perubahan sosial sedang terjadi yang disebabkan oleh Revolusi Industri dan pengaruhnya sampai kepada George Danton dan Maximilien Robespierre (keduanya sebagai anggota Jacobins). Dickens menggambarkan bahwa bahaya pemikiran radikal hanya akan membawa rakyat kepada kematian dan kehancuran. Ia takut bahwa zaman ketidakpercayaan (it was the epoch of incredulity) akan membawa pengaruh yang lebih buruk ketimbang mereka yang terjebak di zaman kebodohan (it was the age of foolishness). Selain itu anggapan Dickens bahwa anak-anak dan orang dewasa bekerja dalam situasi yang tidak aman (perang), orang-orang yang saling curiga satu sama lain, dan tindakan-tindakan tidak manusiawi yang terjadi di Inggris dan sama halnya di Perancis, menunjukkan bahwa perubahan sosial sangat dibutuhkan. Yang jelas, melalui paragraf ini Dickens menggambarkan ketidakpastian besar-besaran dan situasi yang saling bertolakbelakang.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss