19.2.12

Bintang Di Hati Langit

Oleh : Frida Fidayanti S.Pd

Ia terbangun karena suara gemuruh langit yang mengguncang telinganya. Selimut tebal kembali ditariknya, mencoba mengulang mimpi yang baru saja dilihatnya. Sungguh indah meskipun berbeda dari kenyataan hidupnya. Tapi, ia begitu menikmati mimpi itu. Hingga akhirnya...
“Bintang...Bintang bangun, sudah hampir jam tujuh, nanti kamu terlambat lagi.”teriak mama dari lantai bawah.
Bintang menggeliat dan berusaha menggapai jam weker yang sudah 30 menit lalu berteriak-teriak membangunkannya.
“Ah...sekolah lagi. Kenapa sih kita wajib sekolah jam tujuh pagi.”keluh Bintang.
“Bintang, jangan sampai mama siram lagi ya.”ancam mama.
“Iya Ma, Bintang bangun.”
***
Dengan langkah seribu, ia berlari di koridor sekolah. Dua menit lagi pukul delapan. Pak Zac yang terkenal galak itu pasti sudah berada tepat di pintu kelas. Benar saja. Saking terburu-burunya, akhinya Bintang menabrak Pak Zac yang sudah sampai terlebih dulu.
“Bintaaaaang....”suara Pak Zac menggelegar menyisipi sepi koridor. Sampai-sampai semua siswa yang sedang beraktivitas di kelas berhenti bergerak sesaat.
“Ini ke-lima belas kalinya kamu terlambat dan menabrak saya.”ujar Pak Zac ketus.
“Ah, masa sih, Pak?” Perasaan baru tiga belas deh, Pak!”protes Bintang
Mata pak Zac yang belo seperti bola pimpong semakin melotot mendengar celetukan Bintang. Seisi kelaspun tertawa melihat wajah Pak Zac yang marah dan wajahku yang sudah dipenuhi air kotor dan kecebong yang di bawa Pak Zac untuk praktek biologi hari ini.
“Mati aku...”ucapku pelan.
“Apa!”ketus Pak Zac
“E..ee...mm maaf, Pak. Saya terlambat bangun. Jalanan Jakarta pagi ini begitu macet dan tadi ada nenek-nenek menyebrang jalan lambaaatt sekali, Pak, jadi...
“Sudah cukup, “sambil memelintir kumis tebalnya. Seperti biasa, pergi ke gudang, ambil ember, sikat dan pel, silakan menuju WC pria di ujung sana, sikat sampai mengkilat sampai wajah ganteng saya bisa terlihat jelas di lantai itu cepat...”tukas Pak Zac.
“Haaah...WC pria, Pak?” Bintang terkejut. Jangan deh Pak, apa kata dunia kalau saya masuk ke wc pria.
“Oke, kalau begitu ditambah lagi wc wanita.” Desak Pak Zac.
Seisi kelas tambah ricuh oleh gelak-tawa. “Sekalian Pak wc di kos-kosan saya wanginya manyooss.”celetuk Rio si ketua kelas.
“Uh, sialan.”umpatku dalam hati. Yaaa..Pak kok gitu?”protesku
“Baiklah, kalau begitu ditambah...”
Belum selesai Pak Zac berbicara Bintang dengan sigap berlari menuju gudang sambil berteriak “Iya, Pak wc pria aja...”
Bintang memasang wajah kusutnya. Masker yang sudah dibelinya seminggu yang lalu sangat berguna akhir-akhir ini. Tentu saja bukan untuk praktik biologi, melainkan untuk menutup hidungnya ketika ia selalu mendapat hukuman membersihkan WC dari guru-guru.
Semua sudah dipersiapkannya dengan baik. Masker, headphone ditelinga sebagai hiburan, kacamata hitam sebagai penyamaran (walaupun seisi sekolah sudah tahu kelakuan Bintang),sarung tangan, dan sepatu bot milik Pak Wardiman si penjaga sekolah dan tukang bersih-bersih disekolah itu. Pak Wardiman sangat baik padanya. Kerap kali ia membantu Bintang menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh guru. Iapun orang yang sangat lucu dan...
Uupss...kok jadi ngomongin Pak Wardiman. “Saatnya beraksi. Semangat Bintang.”
Selang beberapa menit kemudian. Byuuuurr....!!!
“Eh, loe buta ya, sudah gila loe?”umpat seorang cowok yang baru saja sepatu ketsnya disiram oleh Bintang.
“Maaf...maaf...maaf, saya gak liat kalau ada orang di depan saya!”jawab Bintang gugup.
“Jelas aja loe gak liat diwc aja pakai kacamata segala, sinihin sepatu loe, cepet!”geram cowok itu sambil melepaskan sepatu ketsnya yang basah.
Dengan ragu-ragu Bintangpun menyerahkan sepatu kets kesayangannya kepada laki-laki itu yang bernama Langit. Langit adalah anak dari salah satu pendiri di SMU Pradika ini. Cowok ganteng pindahan dari Bandung setahun lalu ini langsung mendapat tempat tersendiri di hati cewek-cewek SMU Pradika. Tentu saja menjadi idola baru SMU Pradika. Diimbangi dengan otak yang cerdas, supel dan handal dalam bermain basket.
Sungguh sempurna. Tapi bukan pertemuan pertama yang sempurna bagi Bintang. Walaupun Bintang sudah lama tahu bahwa Langit adalah teman kecilnya waktu di Kalimantan dulu. Ayah Bintang dan Langit adalah rekan bisnis pertambangan batu bara. Hingga setelah ibunda Bintang meninggal dunia ayah Bintangpun alih profesi sebagai pengusaha amplang. Selang lima bulan kemudian ayah Bintang menikah lagi dengan seorang wanita. Tidak lain adalah mantan isteri dari rekan bisnisnya, ibu kandung Langit. Bintang pindah bersama ayah dan ibu tirinya ke Jakarta tanpa sempat berpamitan dengan Langit. Karena bagi Bintang ia tak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal dengan Langit. Langitpun begitu kecewa mendengar berita itu dari teman-teman mainnya. Dan akhirnya langitpun memilih ikut paman dan bibinya di Bandung. Hingga delapan tahun berlalu.
Bel tanda istirahat berbunyi. Dengan langkah gontai, lelah dan lapar karena tak sempat sarapan, Bintangpun menjalankan hukuman keduanya dari Langit.
“Ngapain loe Bin? Jualan sate atau sepatu ampe lebaran monyet juga gak bakal kering tu sepatu loe kipasin. Sono di jemur. Otak loe kelamaan di wc jadi eror, haha...haha...!” ledek Rio si ketua kelas dan kawan-kawannya.
“Iya ya, kenapa jadi bego gue,”umpat Bintang dalam hati.
“Eh, kecebong seneng loe ya dihukum tiap hari biar gak ikut pelajaran, alasan loe,” kembali ejekan didengarnya dari mulut si trio kwek-kwek Jamie, Angel, dan Maria.
Bintang diam tak berkutik. Ia paling malas berurusan dengan mereka. Semakin di ladeni akan semakin tak ada habisnya. Bintang sebenarnya yakin, sekali sabet tiga nenek lampir itu bakal KO. Maklum Bintang pernah menyabet gelar juara satu karateka sabuk hitam se-Jakarta. Tapi ia tak pernah gubris hal itu. Daripada mendapat masalah lagi dari guru-guru yang sudah hapal benar tabiat Bintang.
***
Selama hampir satu jam Bintang menunggui sepatu Langit yang sedang di jemur akhirnya kering juga. Dengan langkah semakin gontai ia menaiki tangga menuju kelas langit XII IPA 1.
“Nih, sepatunya udah kering, balikin sepatu gue,”pinta Bintang lemah.
“Siapa bilang gue mau balikin sepatu loe,”ketus Langit.
“Ih, kok gitu sih, gue kan udah bertanggung jawab bersihkan sepatu loe sampai kering seperti semula, sekarang balikin sepatu gue, atau gue laporin sama....”Bintang bingung melanjutkan. Hampir semua guru di SMU Pradika bermasalah dengan Bintang. Kecuali Pak Udin, Bu Zahra, Bu Bella, Pak Idrus dan Pak Wardiman. Tapikan mereka semua bule’ dan pa’le kantin.
“Sama siapa?” memang ada guru yang percaya sama loe? Ejek Langit dibarengi gelak tawa dan cibiran dari teman-teman sekelas Langit.
Sadar ia hanya akan menjadi bual-bualan teman-temannya. Sepatu Langitpun diletakkan dengan rapi di depan kaki Langit. Bintangpun melangkah pergi tanpa menggunakan sepatu hanya menggunakan kaus kaki Mikey Mouse diiringi krincingan gelang kaki pemberian Langit dulu. Berharap langit melihatnya dan mengingatnya.
“Ee..eehh...gak sopan loe ya. Gue belum selesai ngomong loe pergi begitu aja, eh, gue belum selesai.” Cegah Langit.
“Loe belum selesai, tapi gue sudah. Ambil aja sepatu butut gue siapa tau berguna buat ganjel pintu kamar loe yang segede lapangan bola.”Bintang mulai gusar.
“Loe kenapa sih berubah, Bin?” Loe gak boleh selalu menyerah dengan orang-orang yang suka ngerjain loe. Kalau loe benar loe lawan dong. Loe bukan Bintang yang gue kenal dulu...” Ucap langit keceplosan berbicara.
“oohh... ternyata selama ini loe sudah tahu gue, tapi loe lebih milih diam dan ikut-ikutan teman-teman lo ngerjain gue, menghina gue.” Bintang mulai marah.
“Iya supaya loe bisa bangkit, Bin,” Dulu loe cerdas, loe cantik Bin, loe idola guru-guru. Loe ramah dan gak pernah seperti ini. Kenapa Bin? Apa karena Ibu loe udah gak ada, terus apa karena Mama Rini, Ibu tiri loe yang ternyata Ibu kandung gue?” Bintang terkejut mendengar penjelasan Langit yang begitu gamblang berbicara. Apa dia tidak gusar. Ibu kandungnya menjadi ibu tiri gue. Yang berarti gue adalah adik tirinya. Sedangkan gue mencintainya.
“Mama Rini orang yang baik, Bin. Dia sayang banget sama loe. Ia bekerja menjadi CS di kantor ayah gue lagi bukan ingin mengkhianati almarhum ayah loe. Tapi ini demi loe, demi sekolah loe, demi masa depan loe.
“Jadi selama ini Tante Rini...”ucap Bintang makin terkejut.
“Mama Rini selalu cerita ke gue tentang keadaan loe. Gue sedih Bin. Gue sengaja gak langsung menghubungi loe, karena gue ingin meyakinkan diri gue kalau loe orang yang tegar, berani dan gak lemah tanpa gue.
“Ge-er loe,” ejek Bintang sambil berlalu pergi. “Udah ah gue mau ke kantin dulu terus ke kelas. Gue udah ketinggalan dua pelajaran hari ini,”ucap Bintang santai diiringi dengan senyum kecutnya.
“Bin...Bintang...Bintaaaangg...”panggil Langit. “Gue tunggu loe di parkiran pulang sekolah ya Bin...gue jelasin semuanya. Gue sayang loe Bin.
Bintang mendengar tetapi ia tidak menoleh untuk memastikan ucapan Langit. Ia terus berjalan menuruni tangga menuju kantin dengan hati yang bergemuruh. Apakah aku belum terbangun dari mimpi. Dicubitnya lengan kirinya tetapi terasa sakit. Apakah aku tak salah dengar,”ucap Bintang dalam hati. Ah..mungkin aku perlu ke dokter THT malam ini.
Tinggal Langit yang kebingungan sampai tak henti-hentinya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Keesokan harinya...
“Bintang...Bin...”teriak mama.” Bintang jangan samp....
“Iya mamaku sayang, jangan sampai disiram lagikan?” ujar Bintang menggoda Tante Rini sambil berlari kecil menuruni anak tangga.
“Tumben anak mama sudah cantik pagi-pagi,”puji mama.
“Iya dong, Ma, Bintangkan gak mau terlambat lagi, malu sama matahari dan ayam yang berkokok,”canda Bintang sambil mengunyah roti coklat buatan Tante Rini.
“Daahh...mama,”pamit Bintang sambil memeluk dan mengecup pipi mamanya (tante Rini)
Pagi itu adalah pagi yang begitu cerah bagi Bintang. Walaupun sebenarnya hujan akan turun. Langit sudah menunjukkan kuasanya. Mendung, gemuruh, petir dan rintik-rintik kecil mulai jatuh dari angkasa. Tapi, hal ini tak menyurutkan semangat Bintang untuk ke sekolah. Bertemu dan berbincang-bincang dengan Langit yang sangat dirinduinya.
Bintang menuruni angkot sambil mengetik SMS untuk langit dari seberang jalan. Dengan wajar berseri dan berbinar bak pelangi yang terbit setelah hujan seharian. Kutunggu di gerbang sekolah ya, hari ini aku tidak terlambat lagi. Tak lama kemudian balasan SMSpun diterima. Aku sudah menunggumu dari delapan tahun lalu bintang kecilku. Sambil tersipu malu Bintang yang menyeberang jalan tidak memperhatikan ramainya kendaraan yang melintas, dan kemudian...
“Bintang awass....,”teriak Langit dari seberang.
Bbraaakkk....!!!
Tabrakan itupun tak terhindarkan. Mobil Xenia yang melaju kencang membanting stir ke kiri menghindari Bintang dan menabrak tong yang berisi penuh sampah-sampah yang belum terangkut di pinggir jalan itu. Tak ada korban jiwa dalam kejadian naas itu. Hanya mobil yang di penuhi sampah plastik dan dedaunan dan umpatan kecil dari si pengemudi mobil.
Langitpun berlari menyeberang dan memeluk erat Bintang yang masih terkejut dengan apa yang di alaminya pagi itu. Semua orang terpekik. Tak terkecuali siswa SMU Pradika yang tengah ramai di gerbang masuk sekolah pun terkejut melihat kejadian itu. Bukan karena mobil yang menabrak tong sampah. Melainkan Langit yang memeluk erat Bintang di tengah keramaian jalan.
“Dasar cerobohmu gak bisa hilang ya,” ujar Langit sambil menjitak pelan kepala dan mengecup lama kening Bintang.
Bruukkk....Trio macanpun pingsan.

2 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss