2.8.12

Dear Delta Alfaro

Namaku Bintang Ayu Chandra. Biasa dipanggil Ayu. Aku duduk di kelas XII SMU Sastra di Jakarta. Kalau kulihat. Aku bukan gadis yang cantik, tapi tidak juga terlalu jelek. Kata orang aku anak yang manis. Aku tidak memiliki kulit putih mulus bak kapas, tetapi kulitkupun tidak kusam dan penuh daki. Kata orang aku si Hitam Manis. Di kelas aku bukan siswi yang cerdas dan pandai yang selalu rangking dan menjadi idola para guru. Tapi nilai-nilaiku pun tidak mengecewakan. Aku selalu mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Akupun termasuk lima besar di setiap semesternya. Yah, walaupun di kelas X dulu aku pernah mendapatkan rangking 24 dari 25 siswa yang ada. Itu juga karena penyakitku ini yang sewaktu-waktu kambuh dan dapat merenggut nyawaku.
Aku mengikuti kelas taekwondo setiap tiga kali seminggu. Lenganku cukup kuat untuk memukul preman-preman jelek yang selalu membajakku setiap pulang sekolah. Ini sudah terbukti. Semenjak aku memukul keras pipi salah seorang darinya hingga ia sakit gigi selama seminggu dan menendang bagian tersensitif dari para pria hingga KO, mereka menjadi baik padaku. Bahkan terkadang mereka mentraktirku es dawet yang mangkal di sana.
Klise sih memang kisah ini. Percintaan remaja SMU yang penuh warna. Kata orang masa-masa SMU adalah masa yang paling tak terlupakan. Yup!! Tentu saja itupun berlaku bagiku. Bayangkan saja :
Pertama...
Aku memiliki seorang teman dekat, bukan sahabat karena memang kami tidak berikrar menjadi sepasang sahabat. Namanya Carolina. Gadis peranakan Jawa-Belanda yang sialnya 99% wajahnya menjiplak warga Indonesia. Kulit kuning langsat, hidung sedang, rambut ikal, bibir sesuai. Ditambah lagi logat bicara yang kebarat-baratan. Maklum, walaupun ia asli Tegal tapi sejak kecil ia ikut ayahnya di Belanda. Baru sekitar tiga tahun ini ia menetap di Jakarta.
Kedua...
Aku pernah menaruh seluruh hati dan jiwaku kepada seorang pria. Cowok kata orang masa kini. Namanya Delta. Delta Alfaro. Cowok yang satu ini punya daya tarik tersendiri bagi cewek-cewek pemuja cinta si SMU Sastra ini. Selain menduduki sebagai ketua OSIS ia juga menjabat ketua club renang di SMU Sastra ini dan bertahan selama dua tahun berturut-turut. Bisa dibayangkan dong bagaimana seksinya.
Delta dan timnya selalu menjuarai pertandingan antarpelajar se-Jakarta. Gak salah kalau dia salah satu cowok yang wajahnya selalu menghiasi mading sekolahku. Kalau dari luar sih, kelihatannya anaknya gak sombong, murah senyum, dan rajin menabung. Ups, maksudnya rajin dan juga pandai di kelas. Ia juga terkenal sebagai anak pengusaha kacang hijau ini menjadi siswa kesayangan beberapa guru di sekolah. Tetapi, bak peribahasa “Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut di seberang samudera terlihat” (entah siapa yang menulis peribahasa itu!). intinya yang kubayangkan selama ini berbanding terbalik 180 derajat dari kenyataannya.
Begini ceritanya...
Carolina Asmarellda (teman dekatku) adalah siswa baru di sekolahku. Awalnya aku mengira ia pindahan dari Amerika atau negara sejenisnya. Awalnya lagi, ia adalah gadis yang pendiam. Duduk dibangku paling pojok dan paling belakang dan awalnya ia tidak popular. Sebenarnya yang berjasa membuat cewek ini popular adalah guru Bahasa Indonesiaku yaitu Bu Shinta. Kelas Bahasa Indonesia mewajibkan siswa agar mampu berbicara dengan bahasa yang baik. Dan Carolina selalu minder dan malu jika di suruh mempresentasikan makalahnya di depan kelas. Gaya bicara yang kebarat-baratan dengan logat Jawa fasih membuatnya menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah.
Akulah orang yang tak pernah sedikitpun tertawa ataupun ikut membicarakan Carolina. Karena, bagiku tertawa di atas penderitaan orang lain itu lebih kejam dari memfitnah.
Selama beberapa bulan ini kami dekat. Saling bertukar cerita, tertawa bersama walaupun terkadang aku tidak paham apa yang dia ucapkan. Ia selalu membantuku mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris dan sebaliknya akupun membantunya dalam mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia.
Tak ada rahasia diantara kami. Carolina pernah berpacaran dengan Gilbert anak Manado yang sangat tampan, Andi yang super jangkung, Budi yang berambut seperti sarang lebah, Jono yang yang berkacamata tebal dan Husin anak pak Haji Tamrin. Sayang, semua kisah cintanya berakhir setelah dua minggu pacaran. Seringnya mereka bertengkar karena kesalahpahaman menjadi pokok utama kandasnya hubungan mereka tentu saja agak susah memang mengerti cara berbicara gadis yang satu ini. Termasuk masalah cinta terpendamku untuk Delta Alfaro. Sampai-sampai rahasia seorang Delta Alfaro yang sudah lama kupegang teguhpun akhirnya kuceritakan dengannya. Karena aku percaya. Sampai suatu hari, selama hampir seminggu aku harus menjalani opname di rumah sakit, karena penyakit ini. Dan dengan setianya Carolina selalu mengunjungiku. Dan...
“Gue gak nyangka, loe ember juga ya. Muke loe aja yang kayak malaikat hati loe iblis, Yu. Loe gak bisa tutup mulut loe, gak bisa pegang rahasia. Puas loe udah bikin gue malu di depan anak-anak dan seluruh sekolah. Puas loe?. Kenapa gak dari dulu aja, Yu, sekalian. Munafik loe.” Maki Delta tepat didepan wajahku.
“Gue benci sama loe, Yu!!! Tegas Delta dengan wajah merah padam juga menahan malu karena setiap siswa yang melihatnya tertawa.
Aku yang baru saja datang dari kantin dengan membawa segelas es krim, hanya bisa melongo bin bengong mendengar makiannya.
“Loh, Del...Delta maksud loe apa, gue salah apa?”
“Jangan sok lugu, dan mulai detik ini jangan pernah loe datang temui nyokap gue lagi, ngerti loe!!
Ini sungguh memalukan. Di tengah lapangan sekolah dilihat beribu pasang mata Delta memakiku dengan sadisnya. Sejenak aku terdiam memikirkan apa kesalahanku. Aku berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah dan tak sengaja menabrak kerumunan siswa yang sedang asyik memandangi mading yang membuat mereka tertawa tiada henti. Sampai-sampai mereka harus bolak-balik ke toilet beberapa kali.
Lama aku memandangi apa yang lucu dari mading itu. Sampai kutemukan gambar seorang anak lelaki berusia sekitar 14 tahun menggunakan kemeja putih, rambut kribo pink ala badut, dan rok mini berwarna merah terang sedang berpose manis ala model dunia dan bertuliskan “Anak Koruptor Menjajaki Dunia Model”
“Itukan foto Delta dalam dompet gue!!!”
“Siapa yang...” Aku terdiam dan berpikir. “Aku tak pernah....”
Dengan sigap aku berlari mengejar Delta. Ku cari di kelas, di ruang guru, di kantin, diWC pria, di parkiran, dibawah kolong meja, dibelakang sekolah, di manapun tak ada batang hidungnya. Beberapa menit kemudian, Gaston salah seorang anggota club renang itupun menepuk pundakku.
“Kerja bagus, Yu!!! Loe sudah berhasil membuat Delta malu dan akan angkat kaki dari sekolah ini, jadi, gue gak perlu repot-repot bersaing dengannya lagi. Gilaa, keren banget cara loe, Yu. Dapet darimana loe foto itu. Haha..haha... gue aja ampe lima kali ke WC gara-gara liat foto itu, Yu....” Gaston tertawa.
Tak sadar bogem mentahku mendarat tepat di hidung macung Gaston hingga darah segarpun mengalir.
“Loe, gila, Yu?” Tukas Gaston terkejut.
“Siapa yang nyebarin foto itu, bilang sama gue, siapa? Atau gue patahin sekalian hidung bangir loe ini. Biar jelek loe.” Ancamku sambil menarik keras kerah seragamnya.
“Loh, bukannya loe yang nyuruh Carolina buat nyebarin foto itu. Loe kan benci banget sama Delta, sama dong sama gue. Jadi apa masalahnya??” bantah Gaston.
“Oh, gue tahu siapa biang keroknya. Sorry Gas, harusnya loe kalau mau ngomong jangan pake ketawa dulu. Biar bogem gue gak bicara duluan.” Ujar gue sambil berlalu meninggalkan Gaston yang melongo.
Akupun kembali berlari mencari Carolina. Ku cari di kelas, di ruang guru, di kantin, diWC pria ups wanita maksudnya, di parkiran, dibawah kolong meja, dibelakang sekolah, di manapun tak ada batang hidungnya. Sampai loceng tanda pulangpun berbunyi. Dengan langkah lesu, aku kembali ke kelas dan mengambil tas dan tak bergegas untuk pulang. Sepuluh pasang kaki berdiri tetap di depanku. Menghalangi jalan dan langkahku, membuatku yang tertunduk lesu dan lelah harus rela mengangkat wajahku untuk mengetahui siapa lawanku kali ini.
“Ohh...jadi ini jagoan kelas IPA. Segini aja orangya, kirain!!!” ucap Tessa ketus, diikuti senyum dan tawa sinis empat kawannya.
“Iya, memang kenapa kalau cuma segini, kalau lebih ntar loe kalah saing lagi sama gue. Udah ah, gue cape mau pulang, mau tidur, gue gak ada urusan sama model kayak kalian, minggir.” Ucapku tak kalah ketus.
Karena tak sigap dengan kuda-kuda andalanku saat bertanding. Rina dan Welda memegang erat kedua tanganku ke belakang hingga aku tak bisa berkutik. Tessa yang menjadi bos geng mereka bersiap menghujaniku dengan pukulan. Pukulan pertama dapat ku tahan dan ku gunakan kakiku untuk menendangnya. Tessapun tersungkur di lanatai. Bak penjahat yang siap menghabisi lawannya. Tessa bangkit kembali dengan menggunakan kayu yang sudah dipegang Linda sejak awal. Aku merasa hidupku akan berakhir di tangan Tessa. Apalagi kalau sampai ia memukul bagian kepalaku. Dan itupun terjadi.
*** Beberapa bulan kemudian setelah kelulusan...
“Carolina....” panggil seorang pemuda tampan dari belakang gedung kampus. Carolinpun berbalik dan membalas panggilan itu dengan senyum kecut.
“Kenapa sayang? Kok, gitu senyumnya. Biasanya ceria. Makan yuk! Laper nih cacing-cacingku sudah harus diberi makan.”
“Ta, sebenernya ada yang pengen gue omongin sama, loe. Penting. Tapi gak bisa sekarang, kalau ntar malam loe kerumah gue, bisa?” jawab Carolina dengan nada pelan.
“Ada apa, sih? Gak bisa sekarang? Bikin penasaran aja. Sekarang aja ya, sambil mamam!” ujar Delta sambil bercanda.
“Gak, Ta, sekarang aku mau pulang, aku cape. Kamu makan sendiri aja, ya! Ntar malam ku tunggu di rumah. Daah babe!” sahut Carolina sambil berlalu meninggalkan Delta.
*** Di Restoran Padang
Delta mengisi perutnya sendiri bergegas keluar dari restoran padang dekat kampusnya. Ia berencana pergi ke toko buku untuk membeli beberapa bahan untuk presentasinya besok.
“Delta..Delta...boleh gue bicara sama, Loe, sebentar aja, please, Ta!” kata seseorang memelas di belakang Deltapun berbalik.
“Loe lagi, Udahlah sudah berapa kali loe temui gue. Gue bosen loe ikuti tiap hari. Loe gak ada kerjaan apa. Dengernya apapun yang loe omongin tetang foto itu gue gak percaya. Gue udah bilang beribu kali gue gak percaya. Titik.” Ketus Delta.
“Tapi, Ta, biarin gue ngomong dulu, waktu gue gak banyak, Ta. Gue Cuma mau lo denger pembelaan gue. Terserah loe mau percaya atau gak.” Pinta gadis itu
“fiuuhh...oke deh ngomong sekarang, gue dengerin!” keluh Delta
“Jangan di sini, Ta. Kalau bisa di taman SMU Sastra kamu mau kan?” pinta gadis itu kembali.
“Loe banyak maunya ya? Denger ya gue gak banyak waktu. Dan gue udah punya Carolina sekarang. Gue gak mau cari masalah sama pacar gue. Dan ini udah sore, SMU Sastra udah di tutup gerbangnya!” jelas Delta.
“Please, Ta! Ini yang terakhir” Pinta Gadis itu lagi.
*** Satu jam kemudian
Ayu dan Delta duduk bersebelahan di sebuah kursi panjang di taman sekolah. Dulu mereka adalah sahabat yang saling menyayangi. Sejak masa MOS Delta sudah menaruh hati kepada Ayu. Begitupun sebaliknya. Hingga permasalahan keluarga menjauhkan mereka. Ayah Delta di tuduh melakukan tindak korupsi di kantornya. Dan yang melaporkannya adalah Ayah Ayu selaku atasan. Tetapi, Ibunda Delta sudah menganggap Ayu seperti anaknya. Hampir setiap akhir pekan Ayu berkunjung menemui Ibunda Delta sekedar berbincang ataupun belajar memasak. Rasa cinta itupun berubah menjadi benci. Walaupun tak sepenuhnya dirasakan Delta. Prestasi demi prestasi diraih Delta dengan usaha yang sangat keras untuk melupakan Ayu.
“Loe, ingat gak?. Dulu setelah MOS kita duduk di sini menikmati bekal yang dibuatkan oleh mamamu. Dulu kalau loe dikerjain sama panitia, gue deh yang bantuin loe, habis loe cengeng sih!” ungkap Ayu tentang cerita masa lalu.
“Udah deh, Yu!. Loe mau ngomong apaan sih, gak usah basa-basi waktu gue gak banyak!” ucap Delta dengan kasar.
“Del, bukan gue yang nyebarin foto itu. Sumpah Del, bukan gue. Gue gak mungkin ngancurin prestasi loe, popularitas loe hanya karena gue marah sama loe. Gue gak mungkin melakukan itu, Del. Karena gue,.....
“Karena apa? Jadi siapa yang nyebarin. Setan?. Loe pikir itu foto bisa keluar dari dompet loe sendiri terus fotokopi sendiri terus nempel sendiri di mading. Udah deh, Yu, gue udah gak pengen bahas itu lagi. Bosen gue. Inget janji loe, ini terakhir kalinya loe ganggu gue. Gue udah cukup dengerin penjelasan loe, Yu. Mendingan loe pulang sebentar lagi mau hujan.”ujar Delta sambil berlalu pergi meninggalkan Ayu.
“Gue sayang sama loe, Ta. Gue cinta sama, loe!” teriak Ayu berharap Delta mendengarnya yang tak lama kemudian tubuhnya sudah dibasahi oleh hujan.
Delta mendengarnya tetapi tak berpaling sedikitpun.
*** Malam harinya di rumah Carolina
“Apa? Gue gak salah denger, Lin? Kok bisa sih loe sepicik itu sama Ayu. Ayu temen loe, Lin. Jadi, selama ini...” Delta tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Maafin gue, Ta. Ini karena gue sayang sama loe, Ta. Maafin gue. Gue...” tangis Carolin memecah
“Ini bukan sayang, Lin. Gila loe, Lin!” ucap Delta marah sambil berlalu meninggalkan rumah Carolina.
Carolina sadar. Hari ini akan datang. Sesuai ucapan Ayu yang sempat mengirimkan sms kepada Carolina. Sekalipun bangkai kau simpan di dasar bumi, pasti akan tercium juga, sahabatku. Itulah sms terakhir yang dikirim Ayu untuk Carolina. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Ayu kembali selalu tidak bisa dan akhirnya ajakan Delta untuk menjalin hubungan dengannya pun tak kuasa ditolaknya.
Perasaan tak karuan berkecamuk di dalam hati Delta. Ia berhenti sejenak dipinggir jalan untuk menenangkan perasaannya. Ada perasaan bersalah yang teramat dalam terhadap Ayu. Sungguhpun ia berpacaran dengan Carolina, tapi di lubuk hatinya tetap Ayu yang dicintainya. “Aku harus menemui Ayu,”ucap Delta dalam hati. Tak lama kemudian sms dari Carolinapun di baca oleh Delta. “Ta, loe yang sabar ya, gue sekarang menuju rumah sakit Bunga Kehidupan. Ayu koma, Ta, gue baru dapet kabar dari Gaston dan Gilbert”
*** Di rumah sakit Bunga Kehidupan
Seluruh pasang mata tertuju pada layar yang berkedip itu. Sesekali terdengar isak tangis dari beberapa orang yang duduk di sana.
“Pukul sembilan tepat, alat-alat penunjang ini akan kami lepas, Bapak dan Ibu Pratama.” Ujar seorang dokter yang berada di sebelah Ayu terbaring.
“Iya, pak Dokter kami keluarga sudah ikhlas,” ujar ibunda Ayu yang dibanjiri dengan air mata melihat anak semata wayangnya terbaring akibat luka dalam yang parah dibelakang kepala.
Delta menatap tubuh itu terbaring lemah. Ternyata sudah hampir enam bulan Ayu koma. Jadi, selama ini yang Gue temui bukan  Ayu yang sebenarnya. Padahal baru tadi sore ia bertemu dengan Ayu.
Ayu menderita kanker kanker sejak usia tujuh tahun. Tetapi semangat hidup Ayu begitu besar hingga ia beranjak remaja dan mengenal Delta. Delta salah satu tujuannya untuk tetap bernapas. Dan pukulan keras yang dilakukan Tessa kemarin menyebabkan pendaharan yang cukup parah di kepala Ayu. Tessa dan empat kawannya sudah ditangani oleh pihak kepolisian.
“Yu, maafin gue, Yu. Gue juga sayang sama loe. Yu, jangan tinggalin gue. Please Yu, jangan tinggalin gue,”pinta Delta sambil menggenggam erat tangan Ayu saat melihat ada butiran bening yang menetes di pipinya. Tangan Ayupun bergerak menggenggam lemah tangan Delta. Dan Ayupun menepati janjinya. Hari terakhirnya menemui Delta
Suasana hening dan gerimis hujan mengiringi ke tempat peristirahatan terakhir Ayu. Beberapa langkah kaki terdengar semakin jauh meningglkannya sendiri.
“Ta, ini surat yang sempat ditulis Ayu buatmu. Ibunda Ayu yang menitipkannya padaku. Maafin gue, Ta,”Ujar Carolina penuh penyesalan.

Bintang Hitam

Seandainya aku bisa menyayangi Matahari

Dear Delta Alfaro
Dalam hening malam, aku selalu menanti kedatanganmu di sini. Berharap kau datang mencariku. Tapi aku sadar mungkin pesonaku sebagai wanita perkasa membuatmu minderkan. Kalau kau melihat bintang berkelip di malam ini dan malam-malam seterusnya. Ingatlah aku, Ta. Anggap aku yang tak pernah bersinar di hatimu sekarang mampu menjadi sedikit kemerlip di setiap malammu. Jika malam itu diselimuti kabut dan awan hitam. Tutup matamu, doakan aku yang senantiasa melihatmu dari atas sana.

Yang menyayangimu
Bintang Ayu Chandra





0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss