18.12.13

Tangisan Malam

terima kasih hujan karena mendera dalam tangisan hatiku…
entah pikiranku berkobar tak menentu…mungkin imajinasiku yang hanya menjadikan sebagai ritual kesedihan…..
yah mungkin ini tentang dia…yah dia…..
kabut itu…kabut yang kini harus aku ikhlaskan pergi..
bukan berlari ataupun merangkak melainkan pergi dengan tatapan yang membuatku hangat..
sentuhan itu, genggaman itu, bahkan pelukan itu masih aq ingat hingga malam ini dan detik ini…
sebanyak apapun kau sapu kesedihanku hujan semua keindahan itu akan tetap tertanam hingga akhirnya menjadi lebih mekar…
Hujan…aq bertanya pada awan tentang aku dan kabut….yah…tentang kami…
sedemikian hebatnya semua ujian yang dirajut dalam pertemuan kami??
atau ini hanya sebagai bumbu kehidupan saja??
Hujan…awan tak mampu menjawab pertanyaanku melainkan menepuk bahuku dan berkata “maaf bintang….aq hanya awan yang hanya mengikuti angin kemana angin meniupku, sebaiknya kau tanyakan pada angin..bintang…karena mungkin saja angin dapat membantumu”
Hujan…kembali aku bertemu dengan angin..dengan pertanyaan yang sama…angin terdiam…kemudian membelaiku dan berkata “bintang aku hanyalah angin..aku hanya mengelilingi bumi ini tanpa arah, tanpa rasa bahkan kerinduan, sudahkah kau bertanya pada pelangi karena dia akan lebih mengerti tentang pertanyaanmu bintang”
Hujan…aku telah berhadapan dengan pelangi….dapat kau bayangkan hujan….sebelum aku melontarkan pertanyaanku..pelangi langsung menhujatku dengan warna yang tak pernah aku lihat sebelumnya…
aku terdiam hujan, menahan diriku dan akhirnya aku menangis…entah apa yang ingin disampaikan pelangi terhadapku, bukan berwarna melainkan menjadi lebih gelap daripada aku, aku terbujur kaku, apa ini keegoisanm atau rasa sakit hati yang kemudian dilimpahkan terhadapku????
Hujan…apakah semua pertanyaanku hanya akan menjadi pertanyaan pada nantinya..karena memang tida ada jawabannya..?
bukan tepukan ataupun belaian yang aku dapatkan dari pelangi melainkan acungan kemarahan yang membuatku bingung….
aku menghela nafas dan kemudian aku hanya berkata padanya hujan…”jika kau memang ingin memilikinya maka miliki ia dan sayangi ia sebagaimana aku menyayanginya, namun jika kau hanya ingin memilikinya hanya karena sebuah kemenangan…yakinlah suatu saat ketika aku siap..aku akan merebutnya kembali..bukan suatu ancaman melainkan itu suatu kepastian dari ku…..aku sangat menghargaimu pelangi, karena aku dapat dengan mudah menghancurkan warnamu jika aku hendaki”
kemudian aku berpaling dan pergi hujan…..
Hujan…hingga saat ini siapakah yang dapat menjawab pertanyaanku??
Hujan…kenapa kau hanya diam? kenapa tak kau tampar aku dengan derasnya rintikkanmu?
Hujan…Taman langitku sekarang menjadi sunyi…tidak sehangat dulu…
tiga kali saja bertemu cukup untuk memberikan semua kehangatan taman langitku…hingga pada akhirnya kabutpun harus aku relakan pergi..melepasnya ke rimba yang aku saja tidak mengetahui apa isinya…
Hujan sudikah kau memelukku??dingin dan tetesan yang kau berikan menyamarkan kesedihan dan tangisku…
taman langitku tidak akan aku tutup…karena bintang kecilku sering mengajakku kemari..
yah…taman langit kami…hingga suatu kepastian menjadi kenyataan….
karena aku yakin semuanya akan baik-baik saja…
semoga kau bahagia disana kabutku..aku dan bintang kecilku akan tetap bermain ditaman langit yang dulu selalu kita kunjungi….
semoga itu yang terbaik untuk kita haze…..

1 komentar:

Anonim mengatakan...

luaar biasaaaa!

Poskan Komentar

Komentar yaksssssssss